A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 98 - Berunding



"Kau akan menghiraukannya, 'kan?" Jean memastikan.


Lucy memandang kedua sahabatnya secara bergantian. Keduanya menggeleng mengisyaratkan padanya agar Lucy menolak tantangan Beatrix dan menghiraukannya.


Namun tatapan Lucy tajam, dari tatapannya, mereka bisa mengartikan kalau Lucy akan menerima tantangannya.


"Aku mohon jangan!" Jean berbisik lagi.


"Kau tenang saja," gumam Lucy pada Jean. Ia tidak ingin gadis itu terlalu khawatir pada dirinya.


Lucy berdiri, semua orang semakin melongok. Lucy dan Beatrix saling beradu tatapan tajam.


Beatrix masih berdiri dengan senyuman menyebalkan di wajahnya.


"Mari kita buat keadaan ini jadi semakin menarik," tutur Lucy.


Beatrix terdiam. Dalam benaknya, ia berpikir bahwa ia akan bersenang-senang hari ini.


Jean dan Daniel tampak terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan sahabatnya, mereka tidak percaya kalau Lucy akan berkata seperti itu, dan menerima tantangan Beatrix yang sudah jelas-jelas hanya ingin mencelakainya. Jean dan Daniel dihampiri rasa cemas.


"Maksudku begini, kita taruhan dan kita buat perjanjian. Kalau kau kalah, maka kau harus berjanji—ah tidak, ralat! Kalau kau kalah, maka kau harus bersumpah, kau tidak akan pernah mengganggu dan menindas murid-murid yang lemah lagi. Bagaimana?" Lucy mengeluarkan smirk-nya.



Beatrix manggut-manggut, menyimak penjelasan Lucy.


"Tawaran yang menarik. Tapi, kalau kau yang kalah, maka kau harus mau menuruti semua permintaanku!" ucap Beatrix seraya mengulurkan tangannya ke arah Lucy.


Lucy baru saja hendak mengulurkan tangan, dan berjabat tangan dengan Beatrix. Namun dengan cepat, Daniel bertindak.


"Lucy, apa yang kau lakukan?" Daniel berbisik, menatap Lucy, khawatir.


"Kau sudah tidak waras? Kenapa kau mau menerima tantangannya?" Jean geram bercampur cemas. Entah mengapa, ia merasa kalau Lucy mulai kehilangan akal sehatnya dengan menerima tantangan dari Beatrix.


"Aku lakukan ini karena aku tidak ingin ada orang yang mengalami apa yang di alami oleh Elena lagi," ucap Lucy tenang.


"Tapi Lou, kau tidak bisa seperti ini. Dengan kau menerima tantangannya, kau tanpa sadar sedang membahayakan dirimu sendiri," ujar Daniel.


"Benar apa yang dikatakan Daniel. Kau tidak boleh melawannya." Jean membenarkan ucapan Daniel.


"Tapi, kalau aku tidak melakukan ini, maka Beatrix akan terus berulah dan dia akan terus membuat masalah. Kalian tahu sendiri 'kan, semenjak Beatrix hadir dalam kelas kita…"


"…Dia selalu membuat banyak keributan dan banyak masalah. Karena dia juga nama baik kelas kita tercoreng…"


"…Jika bukan aku yang menghentikan ulahnya, lalu siapa lagi? Teman-teman sekelas kita saja bahkan tidak ada yang ingin ikut campur atau turun tangan ketika melihat Elena di tindas, bahkan tepat di hadapan mereka!" Lucy menundukkan kepalanya seraya mengepalkan kedua tangannya erat.


Jean dan Daniel terdiam membenarkan ucapannya.


Memang benar, selama ini yang perduli mengenai orang-orang yang lemah, dan yang selalu melindungi mereka, hanya Lucy.


Mungkin kalau tanpa Lucy, bahkan Jean dan Daniel pun akan bersikap seperti yang lain. Membiarkan orang-orang seperti Elena di tindas begitu saja oleh Beatrix.


"Lou, kami hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa…" ungkap Jean mengutarakan keresahannya.


"Kalian tidak perlu terlalu khawatir, karena aku yakin dengan kemampuan yang aku miliki, aku bisa melawannya!"


...***...