A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 72 - Beatrix



Beatrix mendongak menatap Nico, ia tampak terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Dan dia berharap agar kau bisa mengikuti jejak ayahmu, Thomson sebagai salah satu mata-mata andal," sambungnya.


Beatrix masih menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan Nico padanya.


"Ikutlah denganku. Dengan begitu, janjiku bisa terpenuhi dan kau bisa membuat kedua orang tuamu bangga, terutama ayahmu." Nico melanjutkan.


"Aku tidak tahu…" Beatrix bergumam.


Ia tampak ragu dengan Nico. Ia bingung harus bagaimana.


Antara ikut dengan Nico sesuai permintaannya, atau bagaimana.


Nico lalu berjongkok di hadapan Beatrix dengan kedua tangannya memegang pundak gadis itu dan menatap kedua manik mata rubby-nya, lekat.


"Jika kau tidak ingin ikut dengan kami, kemana kau akan pergi?" Nico bertanya. Membuat Beatrix diam membenarkan ucapannya.


Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban darinya. Membuat Nico hampir menyerah.


Ia beranjak bangun lalu menatapnya.


"Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Tapi aku harap kau berpikir cepat sebelum aku berubah pikiran…"


"…Kami akan menunggumu di tempat parkir. Kalau kau berubah pikiran, temui kami di sana. Beatrix," ucap Nico padanya.


Nico dan Bean lalu berbalik hampir pergi dari sana. Namun dengan cepat Beatrix menahan langkahnya.


"Baiklah, aku ikut."



...*...


Tukk!


Jean menaruh nampan berisi penuh makanannya ke atas meja. Membuat Lucy dan Daniel mendongak, menatap sosoknya yang baru saja tiba.


"Kalian kenapa tidak menungguku?" rengek Jean.


Gadis itu lalu duduk di samping Lucy yang kini tengah menikmati makanannya.


"Ahh… Ini semua gara-gara Grayson dan Sheilla yang terus saja bertengkar dan membuat masalah…"


"…Tadi saja, mereka membuat kotor seisi ruang latihan. Sudah begitu, disalahkan dan yang harus bertanggung jawab atas semua perbuat mereka malah aku, Ethan dan Adeline," gerutu Jean dengan wajah dongkol.


"Hahaha, kasihan sekali nasibmu." Daniel tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak.


"Diam. Jangan meledekku!"


"Hahaha maaf-maaf." Daniel meraih minumannya lalu meneguk hingga tersisa setengah.


"Aku benar-benar lelah hari ini. Dan perutku sejak tadi keroncong karena lapar." Jean memakan makanannya dengan lahap.


Lucy dan Daniel dibuat terkejut dengan cara makan gadis itu.


Saat ini Lucy dan kedua sahabatnya, sedang berada di ruang kantin. Menikmati jam istirahat mereka setelah latihan.


Sebelumnya, Lucy dan Daniel diminta untuk pergi mengecek sesuatu oleh Bean.


Dan begitu mereka kembali, sudah waktunya jam istirahat.


Mereka langsung dipersilahkan untuk istirahat lebih dulu kemudian disusul oleh teman sekelasnya yang lain.


Sudah dua Minggu berlalu semenjak Lucy bergabung di akademi pelatihan.


Ia juga sekarang sudah terbebas dari pengawasan Bean yang awalnya mengawasi Lucy setiap hari seperti minggu-minggu pertamanya.


Semenjak Lucy kenal dengan Jean dan Daniel, sekarang Lucy jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan mereka.


Sementara itu, Sheilla lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan Grayson.


Tidak ada hal lain yang mereka lakukan selain terus bertengkar dan membuat kegaduhan.


Seringkali mereka dipanggil dan di hukum oleh Nico atau Bean karena ulah keduanya.


Tingkah mereka melebihi tingkah Jean dan Daniel saat sedang berebut ingin menghabiskan waktu dengan Lucy.


Jika diibaratkan binatang, Sheilla dan Grayson itu bagaikan kucing dan anjing.


...***...