
"Lucy!" Jean berteriak memanggil gadis yang baru saja melangkah masuk ke dalam kantin itu.
Lucy tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya sebelum akhirnya melangkah menghampiri Jean yang terduduk dengan Daniel di sana.
Di hadapan keduanya sudah tersaji makanan yang sebelumnya telah mereka pesan.
"Wah kalian sudah pesan makanan duluan?" Lucy mengambil duduk tepat di samping Jean.
"Ya, aku juga sudah memesankan makanan untukmu." Jean menarik makanan yang tadi dipesannya untuk Lucy.
"Terima kasih, ini tampaknya sangat enak."
"Kau harus coba ini lebih dulu. Aku yakin kau akan lebih menyukai ini!" Daniel menarik piring yang tadi di berikan Jean, kemudian menyodorkan makanan yang khusus dipesannya untuk Lucy.
"Daniel, kau memang dasar tukang serobot, ya!" kesal Jean. Daniel tak mengindahkan ucapannya dan memilih untuk fokus menatap Lucy yang kini menyuapkan makanan yang baru saja dia sodorkan.
"Enak," ucap Lucy.
"Kau juga harus makan yang aku pesan," kata Jean.
"Baiklah aku akan memakan keduanya. Dengan begitu adil 'kan?" Lucy menarik piring itu ke hadapannya.
...*...
"Ada apa, coach?" tanya Daniel pada Bean yang tengah berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya dengan raut wajah bingung.
Daniel datang dengan Jean dan Lucy. Mereka berdiri di ambang pintu menatap ke arah Bean. Pria itu tampak sedang mengkhawatirkan sesuatu yang entah apa, mereka tidak tahu. Yang jelas dari ekspresinya, sesuatu itu sangat membuatnya resah.
Fokus Bean beralih ke arah mereka. Ia merekahkan senyuman begitu mendapati Daniel datang dengan kedua sahabatnya di saat yang tepat.
Di tangan mereka—masing-masing memegang setumpuk berkas yang semula di minta Nico untuk diantarkan pada Bean.
"Apa ini?" Bean bertanya pada ketiganya.
"Ini adalah berkas-berkas yang di minta Sir. Nic untuk di kirimkan pada anda." Jean menyahuti.
Bean mengacak-acak rambutnya frustasi, meja kerjanya saja sudah penuh dengan kertas dan dokumen-dokumen yang bertumpuk, bahkan laptop miliknya saja sampai tenggelam di antara kertas-kertas itu.
"Simpan saja di sini, meja kerjaku sudah penuh!" Bean menunjuk ke arah meja kaca yang kosong di sana.
Mereka bertiga segera menaruh kertas itu ke atas meja yang semula ditunjuknya.
"Tunggu, kalian tidak boleh pergi dulu. Kalian harus membantuku!" sergah Bean cepat, begitu melihat Lucy dan yang lain hendak beranjak dari ruang kerjanya begitu saja.
"Apa yang bisa kami bantu, coach?" tanya Lucy.
Bean mengambil secarik kertas dari meja kerjanya kemudian kembali menghampiri Lucy dan yang lain.
"Hari ini seharusnya aku datang ke tempat Maria untuk mengambil kostum kalian yang sudah jadi. Tapi kalian lihat sendiri 'kan pekerjaanku benar-benar menumpuk dan aku tidak dapat pergi…"
"…Jadi aku ingin memberikan kalian tugas. Tolong kalian pergi ke tempat Maria dan bawa barang-barangnya," jelas Bean sembari menyodorkan kertas di tangannya ke arah mereka.
"Alamat dan keterangan barangnya sudah ada di sini, kalian hanya perlu mengambilnya saja. Untuk biaya dan lain sebagainya sudah aku urus sebelumnya…"
"…Tadinya Maria ingin mengantarkan barang itu sendiri. Tapi dia tidak dapat meninggalkan pekerjaannya karena terlalu banyak, di tambah lagi ia harus membantu ibunya mendesain kostum."
...***...