A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 16 - Gadis berambut pirang



"Oh astaga, apakah mereka mengganggumu lagi, sayang?" Wanita itu menatap putranya cemas.


Pierre mengangguk pelan sebagai jawaban. "Tapi, tante ini membantuku." Pierre menoleh pada Lucy yang berdiri di dekatnya.


"Sungguh? Oh, terima kasih karena kau sudah membantu putraku."


"Bukan masalah, aku membantunya karena kulihat dia diganggu anak-anak nakal tadi. Selain itu… dia mengingatkanku pada seseorang," gumam Lucy sambil menatap Pierre yang kini berdiri bersama ibunya.


"Merci, karena sudah menolongku," ujar Pierre. Lucy berjongkok dihadapannya, kedua iris matanya beradu tatap dengan Pierre yang berdiri tepat dihadapannya.


Lucy tersenyum, tangannya terulur mengusap puncak kepalanya penuh kelembutan.


"Lain kali, jangan biarkan mereka menindasmu. Kau harus bisa melawan mereka, karena kau tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu."


"Baik, aku akan selalu mengingat ucapan tante." Pierre mengangguk pelan.


"Anak yang baik."


"Omong-omong kamu harus pergi, kami permisi." Ibunya berucap.


"Baiklah."


"Sekali lagi, merci, karena sudah membantu Pierre."


"Bukan masalah."


"Adieu, tante!" Pierre melambaikan tangannya ke arah Lucy.


Lucy bangun dan balas melambai padanya yang kini beranjak dan menghilang di belokan di sana.


Lucy terdiam. Melihat Pierre, anak lelaki yang menangis tadi membuatnya teringat akan adik sepupu laki-lakinya yang telah sudah sangat lama tak bertemu dengannya.


Lucy membatu di tempatnya. Ia menunduk dengan wajah murung. Hatinya mencelos setiap kali ia ingat akan kenangan masa lalunya.


Fokus Lucy beralih menatap ke arah bangunan yang semula di duduki Pierre.


Ternyata, tempat ini sudah banyak berubah, pikir Lucy sembari menatap ke arah sekeliling taman.



...*...


Paris, Prancis, delapan belas tahun yang lalu.


November 2001


Anak perempuan kecil itu resah. Apalagi ketika ia tak menemukan keberadaan sepupu laki-lakinya di manapun.


Terakhir yang ia temukan hanyalah robekan buku yang di bawa sepupunya. Namun setelah itu, anak laki-laki yang menjadi sepupunya hilang entah kemana.


Leon, kau dimana? batinnya. Ia melangkahkan kaki, mencoba mencari keberadaan sepupunya di sekitar taman dekat rumah tempat mereka bermain tadi.


Tapi, area taman yang luas membuatnya kesulitan untuk menjangkau seluruh taman untuk dapat menemukan sepupunya.


Apalagi mengingat dirinya yang masih berusia lima tahun, tentunya bukan hal yang mudah untuk mencari anak seumurannya yang hilang entah ke bagian mana di taman itu.


"Leon, ayolah kau dimana? kita harus pulang. Langit sudah gelap, sebentar lagi pasti salju akan turun. Jika kita hujan-hujanan, nanti Aami marah." Ia bergumam. Kedua manik mata biru indahnya terus mengedar, mencari keberadaannya.


"Trouvé!" ujarnya ketika kedua matanya menangkap sosok anak laki-laki yang dicarinya, ia tengah di ganggu oleh tiga anak laki-laki lain di sana. Bergegas ia berlari untuk membantunya.


(Ketemu!)


"Hey! Mauvais garçons, va!!! Arrête de déranger mon cousin!" pekiknya dalam bahasa Prancis pada anak-anak yang mengganggu sepupunya.


(Bocah Nakal, pergi!!! Berhenti mengganggu sepupuku!)


Ketiga anak laki-laki itu menoleh ke arah datangnya suara. Di sana, mereka melihat seorang anak perempuan berambut pirang dengan surai panjang yang di kuncir kuda sedang berlari dengan raut wajah kesal menuju arah mereka.


Ia berhenti di hadapan anak laki-laki yang sejak tadi tersungkur di tanah bersalju akibat di dorong tiga anak itu.


...***...