
Mereka berdua bertengkar hebat, dan sampai saat ini mereka masih bermusuhan.
Lucy yang kesal dengan sikap Jonathan lalu memutuskan pulang paling akhir dengan menumpang salah satu bus yang mengantar beberapa anak yang tinggal jauh dari tempat tinggalnya.
Di tengah perjalanan pulang, saat semua anak sudah sampai di rumah mereka dan hanya tersisa dirinya, bus yang ditumpanginya mengalami mogok dan tidak bisa bergerak sama sekali. Lebih sialnya lagi, itu terjadi di jalan sepi.
Si supir bus berusaha mencari bantuan dan meninggalkan Lucy sendiri.
Lu pria di belakang sana mengejarnya tanpa alasan yang jelas.
Penampilannya yang menyeramkan berhasil membuat Lucy ketakutan dan memutuskan untuk lari.
Aku tidak boleh sampai tertangkap, pikirnya sambil terus berlari.
Ia sudah sangat kelelahan karena sudah berlari cukup jauh meninggalkan bus yang semula hendak mengantarnya pulang.
Lucy tanpa sadar berlari ke dalam jalanan yang gelap, sepi, dan kumuh bukan main.
Ia menghiraukan semua itu dan terus berlari sampai kemudian kedua matanya menangkap sosok lelaki berjas yang berjalan di gang lain.
"Tolong!" teriak Lucy pada lelaki yang tak lain adalah Bean.
Bean yang berjalan cukup cepat, tidak bisa mendengar suara Lucy.
Bean terus melangkah dengan Lucy yang terus berlari mengikutinya berharap bisa mendapatkan bantuan.
Bean berbelok dari gang yang satu ke gang yang lain hingga membuat Lucy cukup kebingungan.
Lucy sesekali menoleh ke belakang guna memastikan lelaki itu masih mengejarnya atau tidak. Sialnya pria itu terus mengejarnya sejak tadi.
"Berhenti kau!" teriak lelaki di belakang sana secara berulangkali.
Lucy semakin memacu langkahnya.
Lucy mempercepat langkah kakinya.
Bean melangkah ke sisi lain hingga akhirnya menghilang entah kemana.
Lucy itu berbelok, dan begitu tiba di sana, ia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Bean yang tadi dikejarnya.
"Kemana pria tadi?" Lucy bergumam pelan sambil menghentikan langkahnya secara spontan.
Ia celingukan mencari sosok Bean yang hilang tanpa jejak.
Perhatiannya kembali di sita oleh suara teriakan lelaki yang mengejarnya.
Tanpa pikir panjang, Lucy segera berlari hingga akhirnya tiba di depan sebuah gedung besar yang sudah cukup tua dan usang.
Keadaan tenang, tapi ada beberapa mobil yang berderet rapi di sepanjang tempat parkir yang letaknya berada tepat di depan gedung.
Apa yang harus aku lakukan? Tidak ada jalan lain lagi, batin Lucy sambil terus menoleh ke segala arah.
Hanya ada satu jalan. Dan satu-satunya adalah jalan yang baru saja dilewatinya, selebihnya jalan lain yang ada di sekitar gedung itu adalah jalan buntu.
Lucy menoleh ke arah gedung. Pintu kaca yang transparan bisa dengan mudah membuat isi di dalamnya terlihat.
"Sepertinya gedung ini masih beroperasi." Lucy menghampiri pintu kaca dan mengintip ke dalam gedung yang kini dihiasi oleh beberapa orang berjas tengah bergerak, berlalu-lalang di dalam sana.
Di luar gedung mungkin tampak begitu tenang, sedangkan di dalam gedung begitu ramai dengan orang yang bekerja.
"Berhenti kau!" Lucy samar-samar bisa mendengar suara pria tadi berlari semakin mendekat ke arahnya.
"Mungkin aku bisa masuk dan sembunyi di dalam," lirihnya yang segera mendorong pintu kaca itu dan masuk ke dalam gedung.
...***...