A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 32 - Ide



"Liana terluka dilututnya," ujar Caroline.


"Pantas saja aku tidak melihatnya," gumam Theodore.


"Apa tidak sebaiknya kita segera pulang kembali ke London? Setidaknya dengan kembali ke London, Liana akan tenang dan tidak diganggu anak-anak itu lagi…"


"…Tadi juga aku bertanya pada Liana, lalu Liana bilang dia lebih suka tinggal di London. Karena kalau tinggal di sini, ia merasa terganggu dengan sikap ibumu yang selalu memerintahkan Ancel dan Aami untuk mengawasinya. Itu…"


"…Membuatnya merasa kekurangan ruang untuk bergerak bebas," ucap Caroline.


"Tapi kalau kita kembali ke London, dia akan merasa kesepian lagi. Karena tidak memiliki teman untuk diajaknya bermain. Tidak seperti di sini," balas Theodore.


Caroline terdiam sejenak membenarkan ucapan suaminya. Ia berada dalam ambang dilema.


Sementara Caroline terdiam dalam lamunannya, beda halnya dengan Theodore.


Pria itu kini senyum-senyum sendiri saat sebuah ide terlintas dibenaknya.


"What's wrong?" tanya Caroline begitu melirik Theodore senyum-senyum sendiri bagaikan orang gila.


Theodore menatapnya masih dengan senyuman penuh arti yang membuat tanya bermunculan di benak Caroline.


"I have an idea, so that Liana won't feel lonely anymore," tuturnya kemudian. Caroline menaikkan sebelah alisnya semakin penasaran dengan apa yang kini berada dalam pikiran Theodore.


(Aku memiliki ide agar Liana tidak pernah merasa kesepian lagi)


"What? Bring Leon to live with us in London?" Caroline menebak. Semoga tebakannya benar. Karena jujur, saat ini hatinya mulai gelisah. Apalagi melihat senyuman Theodore yang penuh arti.


(Apa? Membawa Leon untuk tinggal bersama kita di London?)


"No!" Theodore berucap cepat.


Caroline semakin gelisah. Theodore mendekatkan wajahnya ke arah Caroline membuat wanita itu sontak terkejut.


Tepat dihadapannya. Ia menatap Theodore lekat dengan jantung berdegup kencang. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan pria yang menjadi suaminya itu.


"We give his younger sister," sambungnya yang berhasil membuat Caroline terkejut bukan main.


"What?!" Caroline menatapnya terkejut, wajahnya bersemu seketika begitu mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan suaminya.


Theodore tersenyum, kemudian menarik tubuh Caroline ke atas ranjang membuat wanita itu terbaring dengan posisi terlentang.


"Theo, no! No! No!" Caroline panik.


Theodore tak mengindahkan ucapannya. Tangannya kini bergerak menarik selimut yang sejak tadi terlipat di ranjang, ia tampak begitu semangat.


Caroline berusaha memberontak tetapi pergerakan Theodore pada tubuhnya membuat dirinya kegelian.


Ia tertawa, sesekali terdengar seakan mengerang. Suara mereka sangat nyaring sampai-sampai Aami dan Ancel yang sejak tadi tengah mengobrol di dapur bisa mendengar suara mereka.



...*...


"Ahh~ Theo!" Suara yang terdengar serupa erangan memecah keheningan malam.


Sebagian besar orang di rumah itu, telah tertidur. Membuat suara itu terdengar jelas.


Hanya Aami dan Ancel yang masih terjaga. Keduanya sedang asyik mengobrol bersama di ruang dapur sembari menikmati secangkir kopi dan beberapa camilan sebelum tidur.


"Quel son est-ce?" Ancel terdiam saat telinganya menangkap suara aneh yang memecah keheningan malam.


(Suara apa itu?)


Ia menaruh kembali cangkir berisi kopi ditangannya ke atas meja bar dihadapannya. Ancel terdiam. Mencoba mendengarkan lebih jelas suara ambigu yang menghampiri telinganya begitu saja.


"Apa?" Aami menatapnya bingung. Kini pria tua itu diam seakan-akan tengah mencoba memperjelas suara yang baru didengarnya.


"Ssttt… kau dengar itu?" katanya.


...***...