
Pria itu berjalan dengan terengah-engah, keningnya sampai berkeringat dan pakaiannya tampak berantakan.
Lucy beranjak dari tempat duduknya.
"Daniel?" panggilnya.
Pria itu mendongak menatap ke arahnya.
"Hai, maaf karena aku datang terlambat. Apakah kau sudah akan pergi?" ujar Daniel ketika ia sudah berhasil mengatur napasnya.
"Tidak. Aku masih menunggumu sejak tadi. Oh ya, ngomong-ngomong apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Lucy.
"Ng… sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk aku bicara sekarang, bagaimana kalau kita tunda dulu? Nanti akan aku kabari lagi saat waktunya sudah benar-benar pas," kata Daniel.
"Apakah tidak bisa sekarang saja?"
"Tidak bisa. Aku harus segera kembali ke rumah sakit untuk menjaga nenekku dan menemani kakekku. Aku kemari hanya untuk memberitahumu agar kau tidak terus menungguku."
"Begitu ya. Baiklah… kalau kau sudah siap untuk bicara, kabari aku lagi."
"Iya. Maaf, karena telah membuatmu menunggu lama."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Oh ya, kalau begitu aku akan kembali ke ruang latihan."
"Aku akan mengatakanmu. Sekalian, aku juga ingin bertemu dengan coach Bean untuk meminta izin karena aku tidak bisa masuk dan mengikuti pelajarannya hari ini."
"Baiklah kalau begitu, ayo." Lucy dan Daniel pergi bersama menuju ruang latihan.
...*...
"Huft~" Daniel menghela napas.
Ia mendongak, menatap dirinya lewat pantulan cermin yang berada tepat dihadapannya.
Rasa gugup sejak tadi terus menghampiri. Wajahnya berkeringat dan jantungnya berdegup hebat.
"Tenang, tenang," gumam Daniel yang mencoba menenangkan diri. "Aku harus tenang. Semuanya pasti akan berjalan lancar."
Akhirnya hari ini tiba juga, hari dimana ia memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang selama lima tahun ia pendam pada seseorang.
Namun, sebisa mungkin ia berpikiran positif. Ia tidak ingin menakut-nakuti diri sendiri dengan bersikap over thinking pada sesuatu yang belum tentu terjadi.
Seorang lelaki berjalan menghampirinya, lalu berdiri tepat di sampingnya.
Lelaki itu, disibukkan dengan mencuci tangan di wastafel. Daniel melirik ke arahnya, dia kenal pada lelaki yang kini berdiri tepat di sampingnya itu.
Lelaki itu—Ethan, menoleh ke arah Daniel lewat pantulan cermin yang berada dihadapannya ketika menyadari sejak tadi Daniel memandang ke arahnya.
"Kau kenapa, Dan?" tanyanya.
"T… tidak. Aku tidak apa-apa."
"Tapi, tampaknya kau sedang sangat gugup." Ethan menoleh ke arahnya sekilas, lalu kembali fokus membilas tangannya yang masih berlumuran sabun.
"Huft… kau benar. Aku sedang gugup," final-nya.
Ethan berhenti. Ia menutup air kerannya, lalu menoleh secara langsung pada Daniel.
"Kenapa?"
"A… aku akan mengantarkannya hari ini," ucap Daniel.
Ethan tampak terkejut. Ia mengerti dengan apa yang di maksud oleh Daniel, pasalnya mereka berdua cukup dekat, dan Daniel sering sekali menceritakan masalahnya.
"Benarkah?" ucapnya.
Kedua manik matanya memandang Daniel dengan raut wajah tak percaya.
"Iya. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi…"
Ethan merekahkan senyuman. Ia senang mendengar pengakuan Daniel.
Setelah sekian lama, akhirnya pria yang menjadi sahabatnya itu, memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaannya pada gadis yang dia sukai.
"Aku senang mendengarnya. Akhirnya, setelah lima tahun kau memiliki keberanian untuk mengutarakannya. Aku doakan semuanya berjalan lancar," ucap Ethan.
Ethan menghampiri hand dryer, mengeringkan tangannya.
...***...