A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 115 - Thomas



"Hai, lihat siapa yang datang," sapa Thomas. Lelaki yang tak lain adalah barista di bar tersebut.


"kau datang lebih awal ternyata. Kukira kau akan datang seperti bisa, karena aku pikir di jam-jam seperti ini kau sedang sibuk bekerja," ucapnya ramah pada Maria.


Mereka berdua tampak sudah sangat akrab satu sama lain. Tapi itu tak membuat Lucy ataupun kedua sahabatnya heran, karena bagaimanapun dari tempat mereka yang berdekatan, itu cukup menjelaskan segalanya.


"Ya, memang benar aku sedang sibuk bekerja. Tapi ada tamu spesial yang datang berkunjung," sahut Maria.


"Wah benarkah? Sebentar biar aku lihat jamku dulu, ini akan jadi rekor terbaru bagimu karena berkunjung lebih awal ke tempatku." Thomas menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Maaf, ralat perkataanmu tadi! Ini bukan tempatmu. Tapi bar milik ayahmu." Maria tak setuju dengan ucapan Thomas barusan.


"Enak saja kau bilang. Ini tempatku! Aku yang mendirikan, hanya saja saat aku sibuk dengan urusanku jadi sementara waktu ayahku yang mengurusnya."


"Ya, ya, terserah kau saja."


"Sudahlah aku tidak ingin berdebat. Lebih baik kau kenalkan padaku siapa tamu-tamumu ini?"


"Ah ya, aku hampir lupa. Perkenalkan ini…" Maria menggantungkan ucapannya, ia sendiri bahkan belum sempat berkenalan secara formal dengan Lucy.


"Aku Lucy," ucap Lucy yang langsung menyambung ucapan Maria barusan. Ia menyodorkan tangan ke arahnya.


"Senang berkenalan denganmu. Namaku Thomas." Pria itu menjabat tangannya seraya tersenyum ramah.


"Senang bertemu denganmu juga. Ini kedua sahabatku." Lucy beralih memperkenalkan Jean dan Daniel.


"Aku Jean."


"Aku Daniel."


"Senang berkenalan dengan kalian semua," Thomas tersenyum.


"Apa yang ingin kalian pesan?" tanya Maria. Ketiganya menoleh ke arah datangnya suara.


Lucy dan Jean tampak bingung harus memilih apa, begitu pula dengan Daniel. Namun pria itu bingung dalam artian berbeda, ia bingung karena terlalu banyak minuman yang ingin dipilihnya.


"Ya, kalian mau minuman apa? Aku punya segalanya di sini." Thomas menghampiri rak dibelakangnya.


"Dari yang non alkohol sampai dengan alkohol kadar tinggi." Thomas menambahkan.


"Bagaimana dengan soda atau cola? Apakah kalian suka!" tawar Maria di sana.


"Cola tidak masalah. Aku bingung harus memilih apa," ungkap Jean.


"Oke, bagaimana denganmu Lucy?" tanya Maria seraya melirik ke arahnya.


"Aku, samakan saja hehe…" Lucy terkekeh pelan.


"Baik, lalu kau Daniel?" Maria beralih menatap ke arahnya.


"Aku ing…"


"Samakan saja!" potong Jean. Daniel menatap ke arahnya dengan wajah sebal.



"Baiklah kalau begitu tiga cola, betul?" Thomas memastikan.


"Jadikan itu empat!" Maria menimpali


"Baiklah, empat cola," tuturnya. Thomas bergegas menyiapkan empat gelas di sana, kemudian ia meraih botol berisi cola untuk mengisi ke empat gelas kaca di hadapan mereka.


Sebelum mengisi gelas nya, pria itu melakukan beberapa atraksi lebih dulu.


Tak lama, mereka kemudian bisa merasakan cola yang disajikan oleh Thomas si barista muda.


"Oh ya, Maria sebenarnya aku, Jean dan Daniel kemari adalah untuk ini…" Lucy menyodorkan sebuah kertas yang diberikan Daniel padanya setelah beberapa saat teralihkan.


Maria meraih kertas yang baru saja disodorkannya. Gadis itu menatapnya sejenak sebelum kemudian berkata, "Aku sudah siapkan semua ini, dan tinggal angkut."


...***...