
"…Lalu dia hanya menganggukkan kepalanya sambil berkata, iya," kata Lucy.
Ia tersenyum tipis saat kilasan tentang masa kecilnya bersama Leon mendadak terlintas dibenaknya. Sudah sembilan tahun dia tidak bertemu dengan Leon, dan dia sangat merindukan anak cengeng kesayangannya itu.
"Aku jadi penasaran bagaimana wajah adik sepupumu. Kalau kakak sepupunya secantik Lucy, pasti adiknya sepupunya juga tidak kalah cantik," ucap Jean.
"Adik sepupuku laki-laki," jelas Lucy membuat keduanya menoleh spontan ke arahnya.
"Eh? Laki-laki?" kejut Jean dan Daniel bersamaan. Lucy menganggukkan kepalanya.
"Aku kira dia perempuan, karena kau bilang dia sangat cengeng dan hanya bisa menangis ketika di tindas."
"Tidak. Dia laki-laki. Hanya saja karena, dia anak tunggal dan sering mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan, seperti Elena. Dia jadi anak yang cengeng," jelas Liana.
"Begitu ya."
"Omong-omong sudah berapa tahun kau tidak bertemunya? Lalu kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?" tanya Daniel.
"Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah saat kami berusia delapan tahun, dan itu pun ketika aku mendapatkan kabar kalau kakek dan nenekku di Paris meninggal dalam kecelakaan," jelas Lucy.
"Setelah itu, aku dan dia tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang," sambungnya.
"Kau pasti sangat merindukannya 'kan?"
Lucy mengangguk sebagai jawaban. Fokus mereka beralih saat menyadari jika kedua mata Elena yang tadinya terpejam mulai mengerjap beberapa kali.
Bergegas ketiganya berdiri untuk memastikan. Mereka memandangnya sambil tersenyum senang. Melihat Elena sudah mulai sadarkan diri.
"Arghh…" Elena membuka kedua matanya. Mengerjap beberapa kali, sampai pandangannya benar-benar jelas.
Hal pertama yang dilihatnya adalah senyuman dari tiga orang teman sekelasnya yang telah membantunya.
Mengambil posisi duduk di atas ranjang. Kepalanya yang terasa sakit, coba dia tahan dengan tangannya.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu, kau masih harus banyak istirahat," ucap Jean seraya membantunya untuk membenahi posisi duduk.
Begitu posisinya sudah nyaman, Elena memandang ke arah mereka bertiga masih dengan wajah bingung.
"Kau sekarang sedang ada di ruang kesehatan. Kau tadi terluka sampai kepalamu berdarah." Daniel menjelaskan.
"Kau baik-baik saja? Apakah ada yang sakit?" tanya Lucy dengan wajah cemas.
"Aku baik-baik saja, barusan kepalaku memang terasa sakit. Tapi sekarang sudah tidak terlalu," jelas Elena dengan suara lirih.
"Syukurlah, kami lega mendengarnya." Jean menghela napas lega.
"Omong-omong… terima kasih karena sudah menolongku dan kalian sampai mau membawaku kemari." Elena menatap sendu pada ketiganya.
Matanya berkaca-kaca, ia terharu dengan sikap Lucy dan kedua sahabatnya yang sudah dengan lantang membelanya. Bahkan mereka membawa Elena hingga ke ruang kesehatan.
Lagi-lagi mereka yang sudah membantunya, lagi-lagi mereka bertiga yang sudah menghentikan Beatrix, dan lagi-lagi hanya mereka yang peduli padanya.
"Bukan masalah, lagipula sudah menjadi kewajiban kami sebagai sesama manusia untuk saling membantu. Terutama anak-anak yang sering di tindas sepertimu," kata Lucy.
Elena terdiam. Ia sekarang tampak murung.
Kepalanya tertunduk. Lucy, Jean dan Daniel memandangnya dengan wajah bingung. Ia tak mengerti kenapa Elena tampak sedih.
"Kau kenapa? Apakah ada yang sedang kau pikirkan?" Jean berucap mewakili pertanyaan yang sama dari kedua sahabatnya.
"Aku hanya merasa malu pada kalian," gumamnya.
...***...