
Lucy beranjak, ia melepaskan gaun yang dikenakannya hingga gaun itu jatuh ke lantai.
Diraihnya kimono mandi yang tergantung di dinding, lantas ia kenakan.
Lucy melangkah masuk ke kamar mandi, menyalakan keran air di bathup-nya dan mengisinya dengan air hangat dari keran, hingga benar-benar penuh.
Sementara menunggu bathtub penuh, ia sibuk menyikat giginya dan mencuci wajah di wastafel.
Setelah bathup-nya penuh dan panas airnya pas, Lucy lalu merendam tubuhnya dengan air hangat agar rasa lelah yang dirasakan tubuhnya dapat menguap bersama dengan uap air hangat yang merendam tubuh.
Lucy menengadahkan kepalanya. Memandang langit-langit kamar mandi.
Perlahan kedua matanya terpejam menikmati sesi berendamnya.
...*...
Lucy berjalan menyusuri lorong yang begitu sepi. Ia sudah mengenakan pakaian rapi berbalut jas seperti biasanya.
"Kenapa begitu sepi? Apakah semua orang belum tiba?" Lucy bergumam. Ia menunduk menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir waktunya sarapan, dan orang-orang belum juga tiba. Sepertinya ia datang terlalu pagi.
Lucy berusaha menghiraukan itu semua dan berusaha berpikir positif bahwa yang lain sudah menunggunya di ruang utama seperti yang diminta oleh Nico kemarin.
"Lucy!" Mendadak suara melengking seorang wanita menyerukan namanya.
Lucy spontan menoleh ke arah datangnya suara.
Belum sempat Lucy melihat dengan jelas sosok wanita yang barusan memanggilnya, seseorang sudah lebih dulu memeluk erat tubuhnya hingga hampir tersungkur jatuh ke lantai.
Ia diam terpaku. Lucy terkejut bukan main saat mendapati seorang wanita berambut gelombang panjang sepunggung, tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.
"Aku merindukanmu!" katanya dengan suara senang begitu melihatnya.
Tidak lama, wanita itu melerai pelukkannya lalu memegang kedua pundak Lucy.
Kedua manik mata indahnya beradu tatap dengan Lucy. Ekspresinya nampak berbinar.
Ia sangat senang bertemu dengan Lucy.
"Kau apa kabar?" Jean sangat merindukan Lucy.
"Aku baik, kau sendiri bagaimana?" Lucy tidak kalah merindukannya.
"Aku sangat baik, dan aku benar-benar merindukanmu."
Jean. Walaupun namanya terkesan seperti anak laki-laki, tapi Jean adalah seorang perempuan.
Dia adalah sahabat baik Lucy sejak bergabung di akademi pelatihan.
Akademi khusus yang diperuntukkan membangun kemampuan dan keahlian khusus para agen mata-mata.
Saat itu Lucy baru saja di terima secara resmi di akademi pelatihan diusianya yang masih sangat belia.
Di akademi pelatihan, Lucy memiliki dua orang sahabat baik yang sangat dekat dengannya.
Sebelum bertemu Elena, ia lebih dulu bertemu dengan Jean dan Daniel.
Keduanya adalah sahabat yang dekat dengan Lucy. Bahkan sampai saat ini, ketiganya masih dekat.
Walaupun Lucy tidak satu tim dengan mereka, tetapi hubungan mereka tidak berubah.
Mereka tetap bersahabat dan tetap dekat satu sama lain. Bahkan terkadang saat ada waktu luang, mereka selalu menghabiskan waktu bersama bertiga.
Jean adalah wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang, matanya indah bak batu safir, senyumnya manis, mudah akrab, dan setia kawan.
Ia adalah tipikal orang yang melindungi dan membela sahabatnya.
Jika ada salah satu dari mereka yang disakiti, ia yang akan maju lebih dulu untuk menjadi orang pertama yang akan menghiburnya.
Prestasinya dalam dunia mata-mata, tak kalah dengan Lucy.
Kalau Lucy di peringkat satu, maka Jean akan berada tepat kedua.
...***...