A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 43 - Ruangan utama



"Ada apa sebenarnya dengan mereka?" tanya Adeline pada Ethan yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa empuk yang ia tempati.


"Memperebutkan Lucy, mereka ingin berbicara dengannya tetapi tak ada yang mau mengalah," jelas Ethan. Reaksi Sheilla dan Adeline sama seperti dirinya.


"Ck, ck, ck! Dasar kekanak-kanakan," gumam Adeline.



...*...


Aland melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Jam itu kini menunjukkan pukul delapan pagi.


Ia baru saja bangun dan selesai bersiap, kini kemeja putih berbalutkan jas hitam telah melekat ditubuhnya. Lengkap dengan dasi yang di ikat rapi di antara kerah yang melingkar di leher.


Aland lantas beranjak menghampiri rak sepatunya lalu mengambil salah satu sepatu miliknya yang kini tampak sangat mengkilap.


"Baiklah sekarang aku hanya harus pergi ke ruang utama untuk bertemu dengan yang lain. Aku yakin mereka pasti sudah berkumpul." Aland memonolog.


Ia mengenakan kaus kaki dan sepatunya. Setelah selesai, ia lantas berdiri.


Apakah Lucy sudah sampai? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya pagi ini, batinnya.


Aland melangkah keluar dari dormitory.


Sepanjang lorong, ia bertemu dengan beberapa juniornya yang satu gedung asrama dengannya.


Mereka membungkuk dan tersenyum ke arahnya. Tidak sedikit dari mereka juga yang menegur dan menyapanya.


Keluar dari gedung dormitory pria, ia kini melangkah menuju ruangan utama.


Jaraknya tak jauh dari sana, hanya perlu berjalan sekitar dua sampai tiga menit maka dia akan sampai.


"Senior Al!" Amanda berteriak menyerukan namanya saat kedua matanya menangkap sosok pria yang tampak familier.


Raut wajahnya ceria, seperti biasa.


Amanda bergegas menghampiri seniornya yang baru keluar dari dormitory.


"Aku pikir kau sudah tiba lebih dulu di ruang utama, karena biasanya kau bangun lebih awal dibandingkan siapapun di tempat ini," tutur Aland begitu Amanda tiba dihadapannya.


Mereka kini berjalan berdampingan. Ya, Aland tahu betul jika Amanda adalah satu-satunya orang yang memegang teguh dan taat beragama, ia menjunjung tinggi agama yang dianutnya. Dan tentunya, dia adalah satu-satunya gadis yang berasal dari daratan Asia yang memeluk agama Islam.


"Ya, memang aku selalu bangun lebih awal dibandingkan yang lain, tapi karena aku sangat kelelahan kemarin, aku sampai merasa malas untuk beranjak. Maka dari itu, aku sedikit bersantai untuk bersiap," jelasnya.


"Begitu ya…"


"Ya, dan kupikir, aku orang yang datang paling terlambat. Tetapi ternyata senior juga baru keluar."


"Tentu saja. Kau tahu 'kan, bagaimana aku. Selalu bangun agak siang karena insomniaku."


"Ya-ya."


Tiba di lorong menuju ruang utama, mereka hanya perlu berjalan beberapa meter lagi lalu berbelok ke arah pintu kaca yang berada di sebelah kanan mereka.


Amanda mendorong pintu kaca ruangan itu secara perlahan hingga membuat atensi semua orang yang duduk di sofa yang ada beralih pada mereka yang baru saja tiba, kecuali ketiga orang yang tengah sibuk membuat kerusuhan di ruangan itu.


Pandangan keduanya menangkap sosok Lucy yang tengah diperebutkan dua orang yang tidak lain adalah Jean dan Daniel.


Aland dan Amanda tak tinggal diam, melihat rekan mereka diperebutkan seperti itu.


Keduanya menghampiri Jean dan Daniel sebagai pelaku utama yang memperebutkan Lucy.


...***...