A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 47 - Tempat duduk



Brakk!


Pria tua itu menggebrak meja dengan sangat keras sambil berdiri. Keempat orang yang tadi berisik mendadak terdiam, dan semua orang kini menoleh ke arahnya.


"Apa kalian tidak bisa duduk dengan tenang!" pekiknya kencang. Orang-orang di sana mendadak tersentak kaget.


Nico beranjak dari tempatnya, lalu menghampiri mereka.


Kelimanya langsung berdiri tegap dengan kepala menunduk.


Nico menghampiri mereka, sambil memijat kepalanya yang terasa sakit.


"Kalian baru saja tiba sudah membuat kegaduhan," tuturnya.


"Sorry, Sir," sahut mereka serentak. Nico menghela napas untuk yang kedua kalinya.



"Baiklah, sekarang biar aku yang mengatur tempat duduk kalian." Nico mengangkat kepalanya.


Ia berjalan menghampiri Aland. Menarik pria itu dan mendudukkannya di kursi kosong yang terletak tepat di samping kanannya. Tepat berhadapan dengan Grayson.


Aland tak protes, karena ia tahu kalau dirinya protes pada Nico, maka ia akan di hukum.


Pria tua itu, kemudian menarik Amanda lalu mendudukkannya di samping Aland. Berhadapan dengan Sheilla.


Selanjutnya Jean yang duduk di sebelah Amanda. Berhadapan dengan James kecil. Kemudian Lucy dan terakhir Daniel.


"Sudah. Dengan begini masalahnya selesai," ucap Nico yang kemudian duduk kembali dengan tenang di kursinya.


Bean ikut duduk di kursi lain yang berada di dekat Ethan.


"Tapi, sir. Nic… Ini tidak adil! Aku juga ingin duduk dengan senior Lou." Amanda protes seperti biasanya. Gadis muda itu memang tidak pernah takut untuk protes, sekalipun pada Nico. Karena Nico, sudah membesarkannya dan sudah dianggapnya seperti ayah sendiri.


Jean dan Daniel di sana tersenyum puas.


Nico memang tahu betul kalau sejak di akademi pelatihan, mereka selalu bertiga dan tak terpisahkan.


Ya, sampai akhirnya Nico menempatkan Lucy ke tim lain dengan tujuan agar dia memiliki lebih banyak teman.


Namun keputusan yang ia buat dulu, justru malah membuat anak didik kesayangannya itu terluka. Bahkan sampai saat ini.


"Baiklah, karena semuanya sudah duduk. Mari pesan makan," ujar Nico mengalihkan pembicaraan.


...*...


Fokus seorang pria albino yang sejak tadi duduk di salah satu kursi di sana seketika beralih saat ia mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari meja lain yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk.


Pria itu menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati sekelompok orang yang sedang bertengkar memperebutkan seorang wanita cantik berambut pirang dengan mata indah.


Mereka berisik sekali, apakah mereka tidak bisa tenang sedikit? pikir pria itu dengan wajah masam.


Air mukanya seketika berubah saat ia melihat orang yang mereka perebutkan.


Pria itu menatap wanita yang tak lain adalah Lucy.


Siapa wanita itu? Dia cantik sekali, batinnya.


Fokus pria itu tak bisa beralih dari Lucy yang masih menjadi rebutan, sampai kemudian gebrakan meja Nico berhasil membuatnya tersentak kaget.


Perhatiannya beralih pada lelaki tua yang kemudian berdiri dan mengatur tempat duduk untuk mereka.


"Gadis itu menyebutnya senior? Apakah itu artinya, mereka satu tempat kerja? Pakaian mereka juga amat rapi. Tapi dari perusahaan mana? Aku baru pertama kali melihat pimpinan mereka. Apakah mereka bukan dari perusahaan dekat sini, ya?" Pria itu memonolog.


...***...