
"Biar aku ambilkan air hangat untuk merendam kaki kalian, sekalian akan aku ambilkan hot chocolate dan selimut," ucap Aami begitu mereka selesai mengganti pakaian.
"Terima kasih, Aami."
"Sama-sama. Sekarang tunggu di ruang bermain. Aku sudah menyalakan perapian agar kalian tidak kedinginan."
"Baiklah." Leon dan Liana berlalu pergi menuju ruang bermain untuk menghangatkan diri di dekat perapian yang sebelumnya telah disiapkan Aami.
Tiba di ruang bermain, Leon dan Liana duduk di sofa empuk yang menghadap ke arah perapian. Api yang menyala berhasil menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan.
"Ini, pakai selimutnya agar kalian tidak kedinginan," tutur Aami dengan suara lembut sambil menyodorkan selimut di tangannya pada mereka, begitu ia tiba di sana.
Aami menaruh hot chocolate yang dibawanya ke atas meja kecil yang terletak di samping sofa yang mereka duduki.
Ia pergi lagi sebentar untuk membawa air hangat yang sudah ia siapkan.
Begitu semuanya siap, Aami segera membantu Liana dan Leon menaikkan celana panjang yang mereka kenakan, sebelum akhirnya merendam kaki keduanya di dalam wadah yang cukup besar berisi air hangat.
Saat sedang menaikkan celana Liana, secara tidak sengaja tangannya menyentuh lutut gadis kecil itu yang terluka akibat terjatuh tadi.
"Ahh…" Liana meringis hingga membuat Aami terkejut.
"Astaga, nona terluka," cemas Aami.
"Liana terluka karena tadi membantuku saat di ganggu anak-anak di taman," jelas Leon di sebelahnya dengan wajah bersalah.
"Apa? Jadi nona juga terluka?"
Liana menganggukkan kepalanya pelan. "Leon juga terluka," ujar Liana
"Ya, aku melihatnya tadi. Kalau begitu, biar aku obati luka kalian." Aami bergegas berjalan dengan tergesa untuk mengambil kotak P3K guna mengobati luka Liana dan Leon.
Aami meneteskan alkohol itu ke kapas yang sebelumnya telah disiapkan.
"Tahan sedikit ya, ini akan terasa sedikit sakit," tutur Aami.
Liana hanya menganggukkan kepalanya. Aami lantas mengoleskan alkohol di kapas tadi secara perlahan pada luka Liana.
Seperti kata Aami sebelumnya, luka yang diobatinya itu, terasa sakit. Liana meringis dibuatnya.
"Ahh," ringisnya membuat Aami berhenti kemudian melirik ke arahnya sambil berhenti sejenak.
"Tahan lagi, ya." Aami kembali mengoleskan kapas itu pada lukanya, tetapi lagi-lagi ia meringis membuat Aami sesekali kembali berhenti.
"Liana, mama pulang…" Suara Caroline membuat ketiganya menoleh secara bersamaan menuju arah datangnya suara.
Di sana mereka melihat seorang wanita dewasa berpakaian tebal lengkap dengan sweater berbulu dan celana panjang, tengah berjalan menghampiri mereka.
Caroline Kimberly, adalah mama dari Liana. Caroline memiliki tubuh ramping, kulit putih yang serupa dengan Liana.
Tingginya kurang lebih sama seperti kebanyakan wanita Inggris pada umumnya, mata yang indah, dan rambut pirangnya panjang sampai menutupi punggung.
Ia baru saja pulang berbelanja kebutuhan rumah bersama dengan Zabrina—mamanya Leon. Caroline segera menghampiri Liana yang sedang di obati Aami.
"Astaga Aami, Liana kenapa?" Caroline berubah cemas. Ia kemudian berjongkok di sebelah Aami.
"Nona Liana terluka, nyonya," kata Aami.
"Terluka? Biar aku saja yang mengobati Liana. Sekarang kau turun dan bantu Zabrina, bantu dia membawa barang-barang belanjaannya ke dapur," ujar Caroline.
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi."
...***...