
Jean dan Daniel bergegas mengejar Lucy.
"Lucy! Lou!" Jean dan Daniel berusaha mengejar gadis itu.
Lucy berhenti, kemudian menoleh ke arah mereka berdua.
Jean dan Daniel bergegas menghampirinya.
"Kau mau kemana?" tanya Jean dengan raut wajah khawatir.
"Aku ingin pergi ke toilet, memangnya kenapa?"
"Biar kuantar, ya?"
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri."
"Tidak apa-apa, lagipula aku juga ingin ke toilet. Jadi kita pergi bersama."
"Ya sudah, ayo."
"Kalau begitu aku tunggu kalian di tempat biasa, ya. Akan kubelikan kalian minuman dan kuambilkan kotak P3K untuk mengobati luka di lenganmu," ucap Daniel.
"Ya, cepatlah!" Jean menginstruksikan.
Daniel lantas beranjak pergi dari sana. Begitu pula dengan Lucy dan Jean yang melangkah menuju toilet.
...*...
"Aku tadi sempat khawatir kau akan kenapa-kenapa, atau aku pikir tadi kau akan kalah oleh Beatrix," tutur Jean yang kini tengah mengobati lengan Lucy yang terluka.
Lengannya memar dan Jean hanya mengoleskan salep untuk mengobatinya agar tidak terlalu sakit.
"Ya benar, kau membuat kami cemas!" Daniel menimpali.
"Sudah aku bilang 'kan, aku akan baik-baik saja, dan aku bisa melawannya. Jadi, kalian jangan terlalu khawatir," tutur Lucy. Jean melirik ke arahnya dengan tatapan kesal.
"Tidak apa-apa apanya? Kau ini terluka! Dan bagaimana kami tidak cemas? Kau tadi hampir saja terluka lebih parah gara-gara Beatrix. Dia bahkan mencoba untuk memukul kepalamu berkali-kali!" tukas Jean.
"Tapi tetap saja, walaupun kau menang. Kau membuat jantung kami hampir copot!" ucap Daniel.
"Ya, maaf-maaf. Lain kali, aku tidak akan meladeni dia lagi agar kalian berdua tidak menjadi khawatir," kata Lucy.
"Baiklah, kami pegang omonganmu!" cetus Jean.
...*...
Waktu berlalu. Sudah tiga Minggu semenjak kejadian hari itu. Lebam di tangan bagian atas Lucy sudah sembuh dan ia sudah bisa kembali beraktivitas seperti bisa.
Elena juga sudah sembuh, kepalanya yang semula di perban sudah membaik dan dia sudah keluar dari ruang kesehatan sejak seminggu yang lalu.
Sementara itu, Beatrix masih saja terus membuat keonaran. Membuat sebagian besar orang resah akan sikapnya.
Setelah kejadian hari itu, Nico mengetahui bahwa Elena masuk ruang kesehatan karena Beatrix.
Nico menghukum berat Beatrix sebagai penebus kesalahannya. Namun hal itu masih tak membuat gadis itu jera.
Lucy masih terus menghentikan aksinya, seperti apa yang sudah ia ucapkan sebelumnya pada Beatrix.
Hal itu membuat Beatrix semakin benci pada Lucy, dan dia semakin tidak suka dengan sikapnya yang selalu ikut campur.
Elena yang semula terus menjadi incaran kejahatan Beatrix, kini tak pernah bisa lagi diganggunya.
Lucy selalu mengawasi gadis yang satu itu, dan memastikan Elena baik-baik saja.
Walaupun mereka tidak dekat sama sekali, tapi Lucy ingin melindunginya. Lucy tidak ingin sampai Beatrix mengganggunya lagi.
Karena Lucy dan Nico memiliki ke khawatiran yang sama terhadap Elena, akhirnya gadis itu di minta untuk pindah dan berhenti mengikuti kelas pelatihan beladiri.
Elena dipindahkan ke bagian Medical spy, dimana di sana dia di latih menjadi mata-mata yang bertugas dalam mengobati orang-orang yang terluka.
Walaupun Elena dipindahkan, tetapi ia tetap dalam pengawasan Bean yang merupakan pembimbingnya.
...***...