A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 111 - Mencari Maria



"Tapi dia tidak dapat meninggalkan pekerjaannya karena terlalu banyak, di tambah lagi ia harus membantu ibunya mendesain kostum baru untuk sindikat lain, jadi kalian bisa 'kan?" ucap Bean.


Daniel meraih kertas yang baru saja diberikan oleh Bean, ia memandang kertas di tangannya dengan seksama.


"Baiklah kami siap, lagipula setelah ini kami tidak memiliki kelas," kata Daniel menyetujui.


"Bagus, kalau begitu ambil ini." Bean merogoh kantong celana yang dikenakannya. Menyodorkan kunci mobil pada Daniel.


"Baik."


"Anggap saja ini sebagai pelatihan terjun ke lapangan langsung pertama kalian."


"Siap, coach. Kalau begitu kami permisi."


"Baiklah hati-hati di jalan," teriak Bean ketika ketiganya sudah beranjak pergi dari ruang kerjanya.



...*...


"Aku harap nilaimu dalam ujian mengemudi bagus." Jean berucap pada Daniel.


Daniel mendelik ke arahnya dengan raut wajah kesal.


"Apakah kau tidak tahu? Nilaiku dalam ujian mengemudi adalah yang terbaik!"


"Oh ya?"


"Kau meragukan kemampuanku? Kalau begitu ayo aku tunjukkan bagaimana caraku mengemudi. Lagipula sejak aku duduk di key stage 4, aku sudah bisa mengemudi!" ucap Daniel.


Ia lantas menghampiri mobil berwarna hitam yang sejak tadi sudah terparkir rapi di hadapan mereka. Mobil itu dipinjamkan Bean untuk mereka kendarai.


"Baiklah kalau begitu tunjukkan kemampuanmu," ucap Jean menantangnya.


"Oke, ayo masuk!"


Awalnya Daniel tampak keberatan kalau Jean duduk disampingnya. Tapi karena gadis itu enggan untuk pergi dari sana, akhirnya Daniel mengalah. itu pun setelah Lucy memintanya.


Daniel menjalankan mobil itu perlahan. Beranjak dari tempat semula, lalu melaju dengan kecepatan normal menuju tempat yang telah di beritahukan Bean sebelumnya. Alamat lengkapnya ada di secarik kertas yang diberikan Bean tadi.


Lucy duduk tenang di belakang sana. Dia tampak merasa nyaman. Begitu pula dengan Jean yang kini diam dan mengakui kemampuan mengemudi Daniel tak buruk baginya.


Lucy tiba-tiba teringat akan kartu nama yang seminggu lalu diberikan Maria.


Kartu itu masih disimpannya dalam kantong celana yang sekarang dia kenakan.


Dia merogoh kantong celananya. Menatap kertas ditangannya.


Lucy termangu memandang ukiran nama di sana. Namanya benar-benar indah, di ukir dengan tinta berwarna emas dengan hiasan mawar merah, dan tak lupa aroma harum yang muncul dari kertas itu masih melekat dengan jelas dan bisa diciumnya. Bahkan sampai saat ini.


...*...


Daniel menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah gedung besar di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup ramai dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar.


Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir tak jauh dari sana. Begitu mobilnya sudah terparkir rapi, Daniel dan kedua sahabatnya lantas keluar dari mobil.


Ketiganya berjalan menghampiri gedung besar nan mewah yang merupakan tempat dimana mereka akan mengambil semua kostum mereka.


Daniel terdiam sejenak menatap kertas dalam genggamannya.


"Ini memang tempatnya," gumam Daniel.


"Baiklah tunggu apa lagi? Ayo masuk," ucap Jean. Ketiganya melangkah masuk ke dalam gedung tersebut.


Langkah mereka bertiga tertahan di ambang pintu masuk, mereka benar-benar di buat takjub dengan apa yang mereka lihat.


Dalam gedung itu, mereka melihat tempatnya begitu rapi. Ada banyak sekali pakaian yang terpajang di sana, dan serta pengunjung tentunya.


...***...