
Felix baru saja merekahkan senyum saat mendapati Lucy menelpon balik, tapi senyumannya seketika pupus saat suara baku tembak di seberang sana seperti berada di tengah huru-hara.
"Lou? Sayang?" Felix berusaha memastikan Lucy masih di sana.
"Hai, sayang. Maaf aku tidak sempat mengangkat telponmu tadi. Aku sedang menjalankan misi." Lucy menjawab di seberang sana. "Kena kau!" Wanita itu berteriak ke arah lawannya, sejurus kemudian Felix mendengar Lucy menembak salah satu di antara mereka.
"Argh…" Suara seorang pria yang tertembak di dengarnya dengan sangat jelas.
Felix berkeringat, ia tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di sana.
Sepertinya aku memang menelpon di saat yang tidak tepat, pikir Felix.
"Aku benar-benar meminta maaf karena sudah mengganggumu dalam misi, sayang. Nanti saja kita bicara setelah kau berada dalam keadaan kosong."
"Huh? Baiklah, nanti aku telpon lagi setelah aku kosong."
"Ya." Felix menekan tombol merah yang berarti mati. Dalam sekejap, sambungan telpon mereka terputus.
Felix menghela napas panjang, ia mengusap keringat yang membasahi keningnya.
Mendengar suara tembakan seperti tadi membuatku teringat akan kejadian saat itu… pikirnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Tidak bisa di pungkiri, memang Felix masih mengalami sedikit trauma akibat kejadian beberapa tahun silam. Ada beberapa kejadian yang berhubungan dengan suara tembakan yang membuatnya trauma, dan itu masih sulit untuk ia lupakan sampai saat ini.
...*...
Jari-jari lentiknya mulai bergerak, menari-nari di atas papan keyboard di laptopnya. Ia harus bergerak dan mencari cara agar kedua rekannya bisa bebas dari kejaran penjahat-penjahat itu.
Amanda. Anggota termuda di tim Lucy yang terdiri dari tiga orang. Yaitu Lucy, Aland, dan Amanda.
Amanda bisa dibilang adalah gadis yang jenius. Keahliannya dalam bidang IT dan hacking telah mengantarkannya menuju posisinya saat ini.
Jika teman-teman satu angkatannya di akademi pelatihan masih berjuang membangun kemampuan sebelum debut mereka, beda halnya dengan Amanda yang lebih dulu debut sebagai agen yang di percaya oleh Nico untuk menggantikan posisi Elena di timnya Lucy.
Ada yang berbeda dan istimewa dari Amanda. Bukan hanya kemampuannya dalam bidang IT dan hacking. Amanda juga ahli dalam bidang kedokteran, dan merupakan satu-satunya agen yang berbeda agama dari yang lainnya.
Amanda adalah gadis keturunan Inggris-Singapura-Turki. Lahir dari seorang ayah yang memiliki darah campuran Inggris-Singapura, dan ibunya berasal dari Turki.
Keduanya dipertemukan di Manchester, Inggris, dan memutuskan untuk menikah.
"Ketemu!" Amanda tersenyum simpul saat akhirnya ia menemukan cara agar kedua seniornya itu bisa bebas dari kepungan mereka.
"Senior Al, senior Lou, aku menemukan jalan keluar. Larilah menuju arah selatan. Di belakang bak sampah besar, ada sebuah saluran pembuangan yang mengarah langsung ke gang kosong di dekat gedung tua. Aku akan menjemput kalian di sana."
"Baiklah, terima kasih Am. Kau memang selalu bisa kami andalkan," ujar Lucy di seberang.
Amanda bergegas membereskan semua peralatannya. Memasukkan ke dalam tas kecil yang ada di belakang pinggangnya. Ia melangkah keluar dari dalam mobil tempatnya bersembunyi.
Amanda sibuk mengotak-atik jam pada pergelangan tangannya.
...***...