A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 13 - Pesan dari Amanda



Hari berganti. Matahari sudah beranjak dari tempatnya, naik menuju singgasananya.


Felix bangun saat suara ponselnya terdengar menginterupsi seisi ruangan.


Tangannya bergerak meraih benda tersebut. Ia melepaskan pelukannya pada Lucy, bangun dan duduk dengan sebelah tangan bergerak menekan tombol hijau yang tampil pada layar ponselnya yang menyala.


Felix masih berusaha mengembalikan seluruh kesadarannya. Ia nyaris begadang semalam karena permainannya dengan Lucy.


"Yes?" Felix menjawab dengan suara serak khas bangun tidur. Panggilan itu dari sekretarisnya yang hendak meningkatkan mengenai meeting mereka hari ini bersama dengan koleganya.


"Okay, thanks for reminding me," ujar Felix pada sekretarisnya begitu wanita di seberang sana selesai menjelaskan apa saja jadwalnya pagi hari ini.


"Oh, saya ingin minta bantuan. Tolong carikan pakaian untuk perempuan lalu siapkan dengan sarapan spesial pagi ini, setelah itu kirimkan ke kamar saya sekitar pukul delapan. Untuk ukuran pakaiannya, nanti aku kirimkan lewat pesan. Terima kasih."


Felix menekan tombol merah di sana yang dalam sekejap memutus sambungan telpon mereka.


Ia lantas mengetik sebuah pesan sebelum kemudian menaruh kembali ponselnya ke atas nakes dekat ranjang tidurnya.


Felix beralih fokus pada Lucy yang masih terpejam dengan hanya berbalutkan selimut yang sama dengannya. Ia tersenyum melihat Lucy yang begitu tenang.


Ia mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungilnya.


"Aku pamit, pekerjaanku masih banyak. Maaf, karena tidak bisa mengantarkanmu ke penginapan," bisiknya pelan.


Felix bergerak mencari-cari celana boxer miliknya, mengenakan benda itu sebelum akhirnya beranjak turun dari ranjang tidurnya.


Sebelum menuju kamar mandi, Felix menarik selimutnya hingga menutupi tubuh Lucy setinggi dada. Ia ingin memastikan Lucy tidur dengan nyaman.


Detik berikutnya, ia beranjak menuju kamar mandi.



...*...


Aland menutup pintu kamarnya. Ia beranjak menuju ruang makan untuk sarapan.


"Am?" Aland memanggil gadis berjilbab itu, namun sosoknya tak ada sama sekali di ruang makan tempatnya kini berada.


"Kemana dia pagi-pagi begini? Kenapa dia tidak ada? Biasanya dia yang lebih dulu bangun," gumamnya.


Atensi Aland beralih pada meja makan dan mendapati sepiring berisi pancake dengan surat tertancap di atasnya.


Aland meraih kertas yang di tusuk dengan tusuk gigi dan ditancapkan pada puncak pancake nya.


❛Good morning senior Al.


Maaf aku pergi lebih pagi karena aku benar-benar tidak sabar untuk mengunjungi Eiffel tower, aku ingin melihat sunrise di sana. Jadi, jangan mencariku. Aku sudah membuatkan senior, pancake. Jangan lupa sarapan.


Amanda.❜


Kalimat itu tertulis dengan tulisan tangan Amanda. Aland hanya bisa menghela napas pelan setelah membaca pesan yang di berikan Amanda.


"Walaupun dia terkadang menyebalkan dan cerewet, tapi dia juga terkadang begitu perhatian." Aland tersenyum tipis.


"Kira-kira apakah Lucy sudah bangun? Aku juga tidak melihatnya di manapun. Lebih baik aku cek ke kamarnya." Aland beranjak menuju kamar Lucy guna mencari wanita yang menjadi rekannya itu.


Tiba di depan pintu, Aland mengetuk pintunya pelan.


Hening untuk sesaat. Tidak ada suara balasan sedikitpun dari balik pintu.


"Lou?" panggil Aland sembari mengetuk pintunya pelan. Setelah berulang kali, dan masih tidak ada respon, Aland mendorong pintu kamarnya perlahan yang ternyata tidak terkunci.


Begitu melihat ke dalam kamar Lucy, ia tidak dapat menemukan keberadaan Lucy dimana pun. Kamarnya kosong, dan masih tampak rapi.


...***...