
"Kejar mereka! Jangan biarkan mereka lolos!" Gerald baru saja tiba dengan langkah tergopoh-gopoh, berteriak memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Aland dan Lucy.
Aland dan Lucy terus berlari sekuat tenaga mereka. Jalanan yang teramat gelap tak membuat mereka kesulitan sama sekali, karena berkat bantuan dari alat yang diberikan Amanda.
Alat itu berupa lensa kontak transparan yang bisa membantu mereka untuk memungkinkan melihat dalam kegelapan.
"Dimana tempat itu?" tanya Lucy pada Amanda di seberang sana.
"Letaknya di dekat tong sampah yang paling besar, senior Lou," sahut Amanda.
"Itu!" Aland menunjuk ke arah tong sampah besar yang ia lihat. Lucy dan Aland bergegas berlari menuju arah bak sampah yang mereka lihat.
Tiba di sana, mereka mendapati tempat itu kosong.
"Dimana? Kenapa tidak ada?" tanya Aland begitu mereka tiba di sana.
"Di bawah tong sampah itu."
"Apa?! Astaga." Aland dan Lucy bergegas bekerja sama mendorong bak sampah itu hingga mereka menemukan penutup lubang saluran air.
Mereka segera membukanya dan masuk ke dalam sana sebelum sempat Gerald dan kawanannya tiba di sana.
Brukk!
Lucy dan Aland mendarat dengan kedua kakinya. Sepatu mereka basah karena genangan air yang ada di sana. Beruntung mereka mengenakan sepatu yang terbuat dari kulit yang memungkinkan mereka tidak terkena sedikitpun air pembuangan.
"Di sini gelap," gumam Aland pelan.
"Memang seharusnya seperti itu. Ini 'kan saluran pembuangan air."
"Oh astaga, bau sekali di sini." Aland menjepit hidungnya dengan tangan.
Lucy mengambil sesuatu dari dalam kantong kecil tempat ia menyimpan peluru di pahanya.
"Terima kasih." Aland mengenakan benda itu. Selanjutnya mereka berjalan mengikuti petunjuk yang Amanda berikan.
...*...
Amanda terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Pandangan matanya tertuju pada layar digital yang tampak pada lensa kontak yang ia kenakan.
Amanda memberikan arahan pada Lucy dan Aland lewat apa yang dilihatnya.
"Teruslah berjalan dan di ujung sana, kalian akan melihat tangga yang langsung mengarah pada gang yang aku maksud," ujar Amanda.
"Baiklah, kami akan segera ke sana," jawab Lucy yang kini terus berlari bersama Aland.
Amanda menghentikan motornya begitu ia tiba di gang yang dimaksudnya.
Begitu dirinya berhenti, mobil dibelakangnya pun ikut berhenti.
Amanda melangkah turun dari motornya dan bergerak menuju sudut gang hingga menemukan penutup saluran air. Tak lama, Lucy dan Aland melangkah keluar dari dalam sana.
"Akhirnya kita bisa keluar dari dalam sana." Lucy melepaskan masker yang ia kenakan, begitu juga dengan Aland yang kini sibuk menutup kembali lubang saluran air itu agar baunya tidak keluar.
"Aku harus mandi dengan bersih setelah ini." Aland mencium tubuhnya sendiri. Tubuhnya yang semula harum, sekarang terkontaminasi oleh bau saluran air.
"Kalian memang membutuhkannya," sahut Amanda yang menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan jempolnya.
"Sebelum pergi, gunakan ini." Amanda mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang ada di belakang pinggangnya.
Ia mengeluarkan sebuah semprotan yang kemudian ia semprotkan ke arah kedua rekannya guna menetralisir bau yang menyengat.
"Baunya langsung hilang, ternyata semprotan ini benar-benar bekerja," gumam Amanda begitu selesai.
"Tubuhku jadi harum seperti orang yang baru selesai mandi," ujar Aland.
...***...