
"Akhirnya aku memiliki momen yang tepat untuk menyatakan perasaanku," gumam Daniel.
Daniel meraih tangan Lucy dan menggenggamnya. Ia memberikan benda yang dia belikan untuk Lucy.
"Aku harap, kau mau menerima perasaanku," sambungnya.
Lucy masih bergeming. Ia yang sejak tadi menyimak ucapan Daniel, kini beralih menatap benda yang diberikannya.
Lucy menggenggam sesuatu ditangannya, ia memandang benda itu, yang tidak lain adalah sebuah gantungan kunci dengan sebuah bandul berbentuk karakter kesukaannya.
Benda itu tampak sangat cantik, dan Lucy menyukainya.
Tapi sayangnya, ia tidak dapat menerima cinta dari pria disampingnya. Karena Lucy menganggap Daniel hanya sebatas sahabat dan tidak lebih daripada itu.
Lucy menggenggam gantungan kunci itu. Kedua manik matanya, beralih pada Daniel.
Lima tahun bersama dengan Lucy, tampaknya membuat Daniel mengerti akan semua hal tentang dirinya.
Buktinya saja, Daniel tahu apa yang disukainya.
Lucy lebih suka sesuatu yang sederhana, dan menggambarkan dirinya.
Dibandingkan sesuatu yang mahal atau boneka. Demi apapun Lucy benci boneka!
"I am so sorry, Daniel…" Lucy berucap, membuat hati Daniel mencelos seketika itu juga.
Ia tahu apa yang akan dikatakan oleh Lucy pasti akan membuatnya sedih. Tapi bagaimanapun, ia sudah tahu resikonya sejak awal, dan siap dengan apapun itu jawaban yang diberikan Lucy atas perasaannya.
"Aku tidak bisa membalas perasaanmu. Karena aku menganggapmu hanya sebatas sahabat saja, tidak lebih…"
"…Lagipula, aku masih belum kepikiran untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Saat ini, aku lebih fokus pada belajar dan mengejar apa yang menjadi impianku…"
"…Aku ingin menjadi seorang agen mata-mata andal dan dapat menyelesaikan banyak misi dengan baik," tutur Lucy penuh kelembutan, ia berusaha membuat Daniel mengerti akan keputusannya.
Daniel menundukkan kepalanya. Sedih dengan jawaban yang ia terima dari Lucy.
"Sekali lagi maaf," gumamnya.
"Huft~" Daniel menghela napas, sebisa mungkin ia menguatkan diri.
"Baiklah tidak apa-apa. Setidaknya dengan aku mengungkapkan perasaan yang kupendam selama lima tahun ini… aku jadi merasa lega karena sudah mengucapkannya padamu. Dan lagi, aku akan menunggumu sampai kau bisa membuka hatimu untukku secara perlahan."
"Tapi, Dan…"
"Aku harap setelah adanya kejadian ini, tidak membuatmu merasa canggung untuk berada dekat denganku, dan aku harap aku masih bisa bersahabat denganmu. Karena aku tidak ingin dengan adanya perasaan ini, persahabatan kita jadi hancur," potong Daniel cepat.
Lucy tersenyum. Mencoba membuat Daniel merasa lebih tenang dengan senyumannya.
"Tentu saja. Aku tidak akan menjauh darimu, dan kau akan selalu menjadi sahabatku."
"Aku senang mendengarnya."
"Ah ya, ini…"
"Kau ambil saja. Lagipula sejak awal, aku memang ingin memberikan itu untukmu," tutur Daniel ketika Lucy hendak mengembalikan gantungan kunci yang berada di tangannya pada Daniel.
"Tapi…"
"Lagipula aku tahu, kau pasti menyukainya 'kan?"
Lucy menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu ambil, dan simpanlah."
"Baiklah, terima kasih."
"Okay. Berhubungan ini sudah sore, bagaimana kalau kita pulang sekarang? Kau juga harus pulang sebelum jam makan malam 'kan?" Daniel beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Iya."
"Ayo." Daniel membantu Lucy membawa beberapa hadiah yang di dapatnya dari permainan yang mereka menangkan seharian ini.
Mereka berlalu meninggalkan taman bermain.
"Lain kali, ayo pergi kemari lagi dengan Jean," kata Lucy.
"Ide yang bagus."
...***...