A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 80 - Janji



"Ketika natal dan tahun baru tiba, dia seringkali berdoa dan berharap agar orang tuanya segara tiba untuk menjemputnya…"


"…Tapi, berulangkali ia harus menelan kekecewaan. Saat dihadapanku dan anak-anak lainnya, dia tidak pernah menangis dan selalu terlihat ceria…"


"…Tapi aku tahu jika selama ini, ia hanya berpura-pura baik-baik saja. Karena terkadang setiap malam aku bisa mendengar suara tangisnya di balik selimut, saat yang lain sudah tertidur…"


"…Aku tahu, selama ini dia hanya berusaha bertahan di tempat ini walau dia sendiri merasa tidak nyaman dan ingin segera pergi lalu pulang kembali berkumpul dengan keluarganya. Tapi sudah lima tahun berlalu. Orang tuanya itu, tidak pernah datang lagi." Wanita bernama Sheryl itu menjelaskan.


Ia hampir menangis, tapi sebisa mungkin menahannya.


Wanita gemuk itu lantas duduk di sofa yang ada, setelah semula ia berdiri di depan jendela dan mengintip keluar. Memandang sosok gadis yang tengah diceritakannya.


Nico dan Bean terdiam. Hatinya mencelos.


Mereka benar-benar merasa prihatin dengan apa yang selama ini dilalui oleh gadis yang mereka cari selama lima tahun lamanya itu.


"Begitu ya…" Nico bergumam.


Raut wajahnya menampakkan jelas kalau dia sedih dengan gadis itu.


Ada sedikit rasa bersalah yang ia rasakan dihatinya.


Ia merasa bersalah karena selama lima tahun lamanya tidak berhasil menemukan keberadaan gadis itu. Padahal Peter sejak awal sudah memintanya untuk mencari dan menjemputnya sebelum dirinya dan istrinya—Valentine meninggal dalam sebuah tragedi yang dialaminya ketika dalam misi beberapa tahun yang lalu.


Ternyata memang benar, penyesalan selalu datang di akhir ketika semuanya sudah terjadi dan kita hanya bisa meratapinya tanpa bisa mengubah apa yang telah terjadi.



...*...


"Maaf, karena aku datang terlambat. Aku benar-benar tidak berniat menelantarkanmu di tempat ini…"


"…Sekarang kau tidak perlu khawatir lagi, karena aku sudah datang untuk menjemputmu," tutur Nico pada gadis yang kini berdiri tepat dihadapannya.


Saat ini Nico berjongkok tepat di hadapan gadis yang dicarinya, kedua manik matanya menatap lekat gadis itu.


Tangannya memegang pundaknya. Sementara itu, gadis yang ditatapnya tampak bingung dengan apa yang diucapkannya.


"A… anda siapa?" tanyanya. Ia merasa asing dengan wajah pria yang sekarang berjongkok dihadapannya.


Bahkan seingatnya, mereka belum pernah bertemu sama sekali. Tapi entah mengapa, pria itu berkata seakan-akan mereka sudah lama kenal dan lama tak jumpa.


Nico tersenyum simpul padanya, sejak awal ia sudah menduga kalau Elena tidak akan mengenalinya. Karena terakhir kali mereka bertemu adalah ketika ia masih berusia satu tahun.


Dan itu pun hanya sekali. Saat ia sedang berulang tahun.


"Panggil aku sir. Nic. Aku adalah sahabat lama dari kedua orang tuamu," tutur Nico.


Air muka gadis itu berubah terkejut.


"A… anda kenal kedua orang tuaku?" tanyanya.


Nico mengangguk sebagai jawaban.


"Aku datang kemari untuk menjemputmu sesuai permintaan kedua orang tuamu. Mereka memintaku untuk membawamu ikut tinggal di tempatku," jelas Nico.


"Anda bertemu dengan orang tuaku? Apakah sekarang mereka berada di tempatmu? Tapi, kenapa mereka tidak menjemputku sesuai janji mereka dulu?" Mimik wajahnya berubah yang awalnya tampak senang menjadi sedih.


Ia tampak murung.


...***...