A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 41 - Daniel



Kalau Lucy di peringkat satu, maka Jean akan berada tepat di peringkat dua. Dan selama bertahun-tahun tak ada yang pernah bisa menggeser posisi keduanya dari papan prestasi.


Hal menarik lain yang ada pada Jean, selain parasnya yang cantik, ia juga merupakan anak tunggal dari pasangan suami istri yang notabene-nya adalah mata-mata. Jadi bisa dikatakan kalau seluruh anggota keluarganya adalah mata-mata.


Kedua orangtua Jean telah pensiun dari pekerjaannya, dan sekarang hidup sebagai warga sipil biasa pada umumnya yang memiliki kehidupan normal.


Mereka kini memiliki perusahaan besar dan telah memiliki beberapa kantor di beberapa negara berbeda.


Biarpun kedua orangtuanya telah pensiun, tapi terkadang mereka masih sering melakukan aksi mata-matanya dan menjalankan misi. Walau tidak sesering Jean.


Kedua orang tua Jean juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan Sir. Nico yang tidak lain dan tidak bukan adalah pendiri SGLS Agen.


Bahkan kedua orangtuanyalah yang membantu memfasilitasi semua agen yang ada di sana.


Biarpun begitu, Jean tidak pernah bersikap sombong dan tetap hidup berbaur serta tak menginginkan perlakuan istimewa dari siapapun.


"Omong-omong bagaimana dengan misimu?" Lucy tampak semakin antusias.


Kalau Lucy baru menyelesaikan misinya di Prancis, beda halnya dengan Jean serta timnya yang baru menyelesaikan misinya di Italia.


"Semuanya berjalan lancar. Ya… walau pada awalnya ada beberapa masalah kecil. Tapi berhasil kami atasi."


"Syukurlah. Lalu, bagaimana dengan Italia?" Lucy cukup tertarik dengan pengalaman Jean.


"Luar biasa! Aku benar-benar senang bisa mendapatkan misi hingga mengejar mafia itu ke sana. Ini pengalaman yang sangat menyenangkan karena ada banyak hal yang membuatku tertarik dengan negara satu itu!" Jean menjawab dengan penuh semangat.


Ia kemudian mulai menceritakan semua pengalamannya selama menjalankan misi di Italia pada Lucy.


Tidak sedikit hal dan kejadian yang diceritakan Jean membuat Lucy tertawa, apalagi ketika mendengar kebiasaan konyol yang masih belum berubah dari kedua anggota lainnya yaitu Daniel dan Ethan.


"Tidak bisakah kau berceritanya nanti saja? Sekarang kita harus menemui Nico di ruangan utama."



Ucapan Jean terpotong ketika sebuah tangan besar berurat mendarat di pundak sebelah kirinya. Wanita itu mendongak bersamaan dengan Lucy menatap sosok pemilik tangan yang baru berucap itu.


"Aih, kau mengganggu saja!" ketus Jean padanya. Air mukanya berubah kesal karena lelaki itu mendadak memotong pembicaraan mereka yang sedang seru-serunya.


Pria itu menghiraukannya. Ia beralih menatap Lucy yang berdiri di dekat Jean.


"Hai Lou, lama tak jumpa. Apa kabar?" sapanya pada Lucy.


Lucy tersenyum simpul, lalu menjawab "aku baik. Kau sendiri bagaimana?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik."


"Kau mengganggu saja. Lebih baik kau pergi. Aku ingin melanjutkan ceritaku dengan Lucy!" Jean mulai kesal karena pria itu tak menghiraukan gerutunya sejak tadi.


"Maaf, tapi aku pinjam Lucy dulu. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padanya." Daniel menarik tangan Lucy dan membawanya pergi meninggalkan Jean seorang diri di sana.


"Hei, Daniel! Aku tidak mengizinkanmu membawa Lucy-ku. Cepat kembalikan dia. Aku masih ingin bercerita dengannya!" Jean memekik. Namun lagi-lagi pria itu menghiraukan teriakannya.


Jean bergegas mengejar mereka tak ingin ketinggalan.


Daniel, namanya. Pria tampan yang merupakan salah satu sahabat baik Lucy di akademi.


...***...