A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 91 - Lucy, aku menyukaimu!



Sang mentari sudah mulai turun dari singgasananya, dan langit biru telah berubah jingga.


Daniel melirik jam di tangannya. Ia hampir lupa dengan apa yang akan dibicarakannya pada Lucy, karena terlalu terbawa suasana.


"Lucy…" Daniel memanggilnya.


Sudah tidak ada waktu lagi untuk mengucapkannya. Sebentar lagi malam akan segera tiba dan Lucy harus pulang sebelum jam makan malam.


Daniel menghentikan langkahnya, membuat Lucy spontan menoleh ke arahnya seraya berhenti.


Mereka berdua baru saja selesai bermain komidi putar.


Daniel terdiam sesaat .


Degup jantungnya berdebar hebat, dan ia mulai kembali berkeringat.


Daniel mengepalkan tangannya. Masih berusaha untuk tenang dan mencoba untuk tidak gugup.


"A… aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," tutur Daniel.



"Apa? Katakan saja," sahut Lucy.


Daniel mendongak menatap sosok Lucy yang menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Tidak di sini, ayo ikut aku." Daniel menarik pergelangan tangan Lucy. Membawanya menjauh dari keramaian.


Mereka duduk di bangku taman. Bangku itu, menghadap langsung ke arah lautan lepas yang sangat indah.


Di sisi taman itu, tidak banyak dikunjungi oleh orang-orang yang datang ke taman bermain. Karena sebagian besar lebih sering bermain di bagian utama dan menaiki wahana permainan.


"Apa yang ingin kau bicarakan, sampai-sampai kita harus kemari?" tanya Liana yang masih merasa bingung.


Ia menatap Daniel lekat, membuat keringat di wajah Daniel semakin banyak, bercucuran dikeningnya.


"Aku… aku ingin mengatakan…" Daniel terdiam menggantungkan ucapannya.


Lucy masih menatapnya lekat.


"Apa yang ingin kau katakan?"


Daniel mencengkeram erat benda yang semula ingin diberikannya pada Lucy.


Ia berusaha untuk tenang. Namun gagal. Keringat terus bercucuran dan ia semakin gugup.


"Dan, apakah kau baik-baik saja? Kau tampak pucat. Apa kau sakit?" Lucy mulai khawatir, pasalnya ia melihat perubahan air muka Daniel yang tiba-tiba.


Lucy menempelkan punggung tangannya di kening Daniel. Ia mencoba memastikan Daniel tidak sakit.


"Astaga, Dan. Kau berkeringat, biar aku lap." Lucy bergerak hendak mengambil tisu yang dibawanya.


Tapi tangannya lebih dulu di cengkeram Daniel hingga membuatnya spontan berhenti.


"Tidak perlu," gumamnya pelan dengan kepala tertunduk.


"Daniel?"


Ayolah Dan! Kau pasti bisa. Daniel membatin mencoba mendorong dirinya untuk berbicara.


"Daniel, are you okay?" Lucy masih menunggu responnya.


"Dan? Kau…"


"Lucy, aku cinta padamu!" Daniel motong ucapan Lucy cepat.


Dia berucap sangat keras, sampai-sampai membuat Lucy terkejut.


"A… apa?" Lucy tidak dapat berkata-kata.


Kedua matanya melotot dengan mulut menganga, terbuka sempurna.


Untuk sesaat keadaan di antara mereka hening. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir masing-masing.


Daniel berusaha untuk mengatur degup jantungnya yang tak beraturan.


Ada sedikit rasa lega yang hinggap di dadanya.


Namun di situasi yang bersamaan, ia juga gugup. Karena memikirkan apa jawaban yang akan diucapkan Lucy atas ungkap perasaannya.


"Sebenarnya… sejak awal aku mengenalmu, aku sudah menyukaimu…"


"…Awalnya, aku kira perasaanku padamu hanya sebatas kagum. Karena menurutku, kau memiliki sifat yang berbeda dari gadis lain…"


"…Apalagi ketika aku semakin dekat denganmu, serta mengenalmu lebih jauh, perlahan membuatku sadar kalau ternyata, perasaanku padamu lebih dalam dari sebatas kata kagum…"


"…Ternyata aku mencintaimu. Setelah lima tahun aku menunggu, akhirnya aku menemukan momen yang tepat."


...***...