A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 10 - Berlibur?



"Sekarang ayo pergi." Lucy dan Aland menghampiri mobil mereka.


"Aku akan pergi dengan motor," ujar Amanda.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati."


"Aku akan selalu berhati-hati senior Lou." Amanda tersenyum. Ia naik ke atas motornya dan mengenakan helmnya.


Lucy dan Aland masuk ke dalam mobil, menaruh tas berisi narkoba di dalamnya.


Malam ini, akhirnya mereka berhasil mendapatkan barang bukti.


Lucy duduk di samping kemudi, sementara Aland yang mengemudi. Detik berikutnya, mereka melaju meninggalkan tempat tersebut dengan Amanda yang melaju di depan mereka.


"Kita sudah mendapatkan barang buktinya. Artinya setelah ini, kita hanya harus kembali 'kan?" Aland menoleh pada Lucy yang duduk di sebelahnya.


"Ya." Lucy mengangguk sambil mengotak-atik thorny bites miliknya untuk menelpon Felix.


"Senior, tidak bisakah kita berlibur dulu selama dua atau tiga hari? Aku ingin menikmati Paris sedikit lebih lama." Amanda berucap lewat handsfree yang terpasang di telinganya.



"Tidak bisa, kita harus segera kembali ke London. Kalau kita mengulur waktu, akan sangat berbahaya. Bisa saja mereka mencari kita dan berusaha merebut barang bukti ini dari kita." Lucy menjawab.


"Sangat di sayangkan, padahal aku ingin mengunjungi menara Eiffel. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke Prancis." Amanda terdengar murung.


"Hey, memangnya hanya kau saja? Ini juga adalah pertama kalinya aku datang ke Prancis." Aland menimpali.


Kalau di pikir-pikir… ini juga adalah pertama kalinya aku kembali ke Paris setelah sekian lama. Aku jadi rindu Leon. Ada banyak sekali kenangan indah yang pernah aku lewati dengannya di sini. Selain itu, ada banyak juga kenangan tentang mama dan papa. Aku jadi ingin tahu bagaimana keadaan rumah nenek sekarang. Apakah lebih baik aku berkunjung? Mungkin tidak ada salahnya aku berkunjung, lagipula sudah sangat lama semenjak aku kembali ke London bertahun-tahun yang lalu. Lucy membatin, ia menundukkan wajahnya dengan ekspresi murung.


Prancis, terlalu banyak menyimpan masa lalu untuknya. Terlebih kenangannya bersama kedua orangtuanya, sepupu dan keluarga yang lain.


Semenjak kepergian kakek dan neneknya, Lucy tak pernah lagi berkunjung ke Prancis. Apakah setelah ayah dan ibunya tiada, lalu paman dan bibinya tinggal di Indonesia, Lucy tak pernah sekalipun berpikir untuk datang ke tempat yang menyimpan kenangan masa lalunya.


Terlalu menyakitkan. Terlebih kalau masa lalu itu menyangkut kedua orang tuanya.


Lucy mendongak dengan tatapan lurus, ia tidak ingin terus terjebak dalam rasa sakit bayang-bayang masa lalunya.


"Kau bisa menikmati Paris. Tapi hanya setengah hari, tidak apa-apa 'kan?" ucap Lucy.


"Sungguh? Baiklah, terima kasih senior Lou! Kau memang baik!!" Amanda senang bukan kepalang. Sementara Aland menoleh ke arah Lucy yang mendadak berucap seperti itu.


"Tapi, bukankah kita harus pergi secepatnya ke London?" tanya Aland.


"Kita akan tetap berangkat besok. Tapi, kita pergi dengan penerbangan siang. Lagipula, ada sesuatu yang harus aku lakukan sebelum kita kembali ke London."


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Aland.


"Senior Al tidak peka! Yang harus di kerjakan senior Lou tentunya adalah menghabiskan waktu dengan Felix. Lagipula mereka sudah seminggu lebih tidak bertemu karena senior Lou yang terlalu sibuk dengan misi 'kan?" Amanda menyambar.


Aland terdiam. Ia paling malas kalau sudah membahasnya.


...***...