A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 123 - Danny



Danny menghentikan mesin mobilnya di dekat gang yang hendak dia lewati.


Ia menoleh keluar jendela dan mendapati sebuah mobil polisi tengah berpatroli di sekitar jalan yang akan dia lewati.


"Sial!" pekiknya dengan raut wajah kesal. Sejak kejadian beberapa waktu lalu, ketika Joan, salah satu anggota di aliansi mereka keluar dan berkhianat.


Aliansi mereka jadi terancam dalam bahaya. Apalagi lelaki itu malah berniat membocorkan rahasia sindikat mereka pada polisi.


Hanya sedikit informasi yang berhasil Joan bocorkan pada polisi. Beruntung Vanny sudah lebih dulu membereskan lelaki itu sebelum membocorkan lebih banyak informasi.


Sialnya, walaupun hanya sedikit saja informasi yang dibocorkan Joan, tapi hal itu memicu pihak kepolisian untuk melakukan patroli. Bahkan sudah beberapa kali, gang yang biasa menjadi tempat transaksi mereka dilewati oleh polisi.


Pemimpin aliansi mereka enggan untuk mengganti tempat transaksi dan memindahkannya ke tempat lain, karena tempat mereka sekarang lebih strategis daripada tempat lain yang menjadi pilihan.


Selain itu, letaknya juga tersembunyi dan seharusnya bisa di bilang aman. Setidaknya kalau sampai tidak ada polisi yang keluar dan berpatroli dengan jalan kaki.


Danny mengeluarkan ponselnya. Mencari nomor pria yang memerintahkannya untuk mengirimkan paket malam ini.


Tangannya gemetar hebat begitu ia melihat mobil polisi beberapa kali melintas dalam jarak waktu yang tidak terlalu lama. Sepertinya polisi benar-benar memperketat pengawasan mereka.



"Ada apa lagi?" Rio mendengus tatkala mendapatkan telpon dari dirinya. Tampak jelas bahwa lelaki itu benar-benar enggan untuk menerima telponnya.


"A… ada banyak sekali polisi yang berpatroli di sekitar sini. Ti… tidak bisakah kita batalkan saja transaksi untuk malam ini?" Danny berucap dengan ragu. Takut-takut kalau lelaki itu berkeras dan memaksanya untuk tetap maju tanpa pantang mundur.


"L… lalu bagaimana sekarang?" Danny menunggu perintah selanjutnya dari Rio.


"Kau tetap kirimkan paket itu sesuai perintah!"


"A… apa? Tapi…"


"Kau tidak dengar apa yang aku katakan? Tetap jalankan sesuai perintah. Kalau tuan sampai tahu paket ini gagal sampai di tangan pelanggan kita, maka bisa saja kita di berikan hukuman. Maka dari itu kau harus tetap mengirimkannya!"


"Tapi, ada banyak polisi… apa yang harus saya lakukan?"


"Tidak bisakah kau memikirkan hal itu sendiri? Kenapa harus aku juga yang memikirkan itu?! Pokoknya aku tidak mau tahu, jangan datang sebelum paketnya tiba di tangan pelanggan kita!" Rio memutus sambungan telponnya secara sepihak.


"H… halo?" Danny tertegun. Keringat dingin semakin mengucur membasahi keningnya, menandakan bahwa dirinya semakin gugup seiring dengan berjalannya waktu.


Danny menghela napas dalam-dalam. Ia meremas ponselnya kuat-kuat.


"Baiklah, ayo kita lakukan," gumamnya pelan. Ia lantas beralih fokus, meraih koper yang disimpannya di jok belakang kemudian melangkah keluar secara perlahan dari dalam mobilnya.


Danny berjalan menyusuri gang gelap yang cukup sempit dan kumuh. Dia melangkah secara perlahan dengan menjinjing tas berisi barang yang akan dikirimkan pada pelanggan mereka yang sudah membayar sangat mahal untuk barang haram yang bahkan harus dibeli secara sembunyi-sembunyi.


...***...