A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 22 - Estelle



Rumah kediaman La Vergne, sangat besar dan luas. Dengan halaman yang cukup untuk menampung sepuluh sampai lima belas mobil besar.


Selain itu, terdapat dua kolam renang yang memiliki luas yang berbeda.


Kolam pertama terletak di samping rumah. Sedangkan satu kolam lain, berada di lantai dua yang terhubung langsung dengan playground tempat yang dulu biasa di pakai bermain oleh Lucy dan Leon.


Di bagian samping lain, terdapat taman yang luas dan dihiasi dengan berbagai macam tanaman hias yang memiliki harga ratusan dollar.


Area taman samping itu luasnya sampai hingga ke bagian belakang rumah.


Di ujung taman belakang, terdapat sebuah danau kecil yang begitu indah.


Walaupun besar dan mewah. Tapi bagi Lucy dan Leon kecil dulu, rumah bak istana itu membosankan. Tak ada banyak hal istimewa yang dapat menarik perhatian mereka.


Untuk keduanya, bermain di taman sekitar rumah hanya membuat mereka merasa terisolasi dan seakan terkurung di tempat yang sama.


"Baik aku ataupun Aami tetap mempertahankan segalanya di rumah tuan dan nyonya, hal ini agar kami senantiasa ingat terhadap tuan dan nyonya yang sudah sangat berbaik hati mengizinkan kita untuk tinggal di rumah beliau," kata Ancel.



Lucy menoleh pada pria tua itu lalu tersenyum.


"Merci, karena sudah mempertahankan semuanya tetap seperti ini," ucap Lucy.


"Bukan masalah, nona. Lagipula, kami melakukan ini karena kami tidak ingin ada yang berubah dari rumah tuan dan nyonya." Ancel balas tersenyum.


Sementara mereka berbincang, seorang wanita muda melangkah keluar dari dalam rumah itu.


"Kakek!" teriaknya sambil berlari menuju arah Ancel.


Lucy dan Ancel menoleh ke arah datangnya suara, di sana mereka melihat gadis cantik berusia tujuh tahunan menghampiri mereka.


"Estelle, sayang." Ancel merentangkan tangan lalu memeluk anak perempuan yang jadi cucunya itu.


Lucy diam dan menatap anak itu. Wajahnya benar-benar mirip dengan Aami yang dulu menjadi pengasuh sekaligus pembantu di rumah kakek dan neneknya ini.


"Kakek baru saja tiba?" Anak itu melerai pelukannya dengan Ancel.


"Kakak sedang pergi bersama ayah," jawabnya.


Fokus anak bernama Estelle itu beralih pada Lucy yang berdiri bersama Ancel.


"Kakek, kakak cantik ini siapa?" tanyanya sambil mendongak menatap Lucy.


"Ini…"


"Aku adalah Liana," kata Lucy memperkenalkan diri sambil berjongkok di hadapan Estelle. "Dulu, aku tinggal di sini, dan kakekmu dulu adalah salah satu orang yang sudah banyak membantuku di rumah ini."


"Oh, aku pernah dengar. Kakak adalah nona muda keluarga La Vergne 'kan? Mama pernah bercerita tentang kakak."


"Benarkah, ibumu pernah bercerita tentangku?"


"Ya, mama bilang kalau nona muda sangat baik hati dan penyayang. Nona sering melindungi tuan muda. Tidak aku sangka, ternyata nona lebih cantik dari yang aku bayangkan." Estelle tersenyum simpul.


Lucy mengulurkan tangan, mengucap puncak kepalanya. "Kau begitu manis. Siapa namamu?"


"Estelle."


"Nama yang indah."


"Merci. Kakek yang memberikan nama itu ketika aku lahir." Estelle beralih menatap Ancel.


Lucy bangkit dan menatapnya. "Tampaknya kau sudah menjadi kakek," ucap Lucy.


"Aku memang sudah menjadi kakek, ubanku saja sudah sangat banyak dan aku sudah memiliki dua cucu."


"Dua cucu? Selain Estelle, apakah ada anak lain?"


"Tentu. Anak pertama Aami adalah laki-laki, dan dia sudah remaja," jelas Ancel.


...***...