
"Kau harus lebih berani, dan jangan biarkan mereka terus mengganggumu," kata Liana.
Leon menganggukkan kepalanya. "Oui," katanya memperjelas. "Oh ya, merci, karena telah membantuku Liana!" Ucapnya berterima kasih.
("Iya." Dalam bahasa Prancis)
"De rien. Omong-omong kenapa mereka mengganggumu lagi?" Liana beralih pandang menatap Leon.
(Sama-sama)
"Tadi aku hanya sedang duduk di tempat terakhir kita bermain, saat kau sedang pergi ke toilet, aku menunggumu sambil terus memandangi buku hadiah dari papaku ini…"
"…Tapi tiba-tiba mereka datang dan menggangguku, mereka memaksa untuk meminjam buku itu dan mereka merebutnya hingga robek. Aku berusaha untuk merebutnya kembali tetapi mereka malah berlari dengan membawa bukuku, aku mengejar mereka sampai akhirnya aku tiba disini…"
"…Aku sudah mencoba melawan mereka, aku sempat melempari mereka dengan kerikil. Lalu mereka mendorongku dan mulai memukuliku," jelasnya. Kedua manik matanya kini berkaca-kaca, hampir menangis.
"Jangan menangis, dasar cengeng. Hapus air matamu!" Liana menatapnya sebal. Anak laki-laki yang jadi sepupunya ini, memang hanya bisa menangis saat di ganggu oleh anak-anak nakal seperti tadi, dan hal itu membuatnya geram.
"Sekarang usap air matamu. Jangan pernah menangis lagi!" tukasnya. Leon menyeka air matanya.
"Maaf," lirihnya dengan sesenggukan.
"Kau tidak perlu menangis lagi, mereka tidak akan pernah berani untuk mengganggumu lagi. Karena aku akan selalu berada di sisimu," ujar Liana menghibur Leon.
"Merci."
"Oh, aku menemukan ini di tempat terakhir kita bermain." Liana mengeluarkan kertas sobekan buku yang ditemukannya di tempat mereka bermain tadi.
"Wah, terima kasih karena telah memungutnya." Leon mengambil sobekan halaman buku itu dari tangan Liana.
"Tapi sekarang, bukuku rusak," ucap Leon, berubah murung.
"Jangan sedih, aku bisa memperbaikinya untukmu!"
"Oui! Tiba di rumah nanti, aku akan memperbaikinya."
"Merci, Liana." Leon tersenyum senang padanya.
"Sama-sama." Liana balas tersenyum. Leon lalu menatap buku di tangannya.
Buku berjudul Arsène Lupin itu, adalah buku favorit Leon. Leon sangat suka dengan karakter fiksi bernama Arsène Lupin yang mana merupakan karya penulis asal Prancis bernama Maurice Leblanc.
Dalam ceritanya, Arsène Lupin adalah seorang pencuri terkenal yang selalu menjadi buronan polisi Prancis.
Mencuri beberapa barang berharga dari orang kaya, dan beberapa diantaranya di kembali ke rakyat miskin di Prancis.
Walaupun aksi yang dilakukannya demi kebaikan, tapi di mata hukum itu adalah sebuah kejahatan.
Lupin selalu beraksi dengan gallic-style untuk mengalahkan penjahat yang lebih buruk darinya.
Leon sangat menyukai setiap aksi Lupin. Kecintaannya terhadap karakter ini berawal saat ia sering kali mendapatkan masalah dalam tidur malam.
Lalu agar Leon bisa tidur, papanya selalu menceritakan tentang kisah Lupin dan segala aksinya.
Sejak saat itu, ia tidak memiliki masalah dengan tidur malam lagi. Tapi ia selalu ingin mendengarkan cerita mengenai aksi-aksi luar biasa tentang Arsène Lupin.
Bagi Leon, Arsène Lupin adalah idolanya. Maka dari itu, ia sering kali menginginkan segala hal yang memiliki kaitannya dengan Arsène Lupin.
Di kamarnya saja bahkan Leon memiliki banyak barang yang berhubungan dengan Arsène Lupin, dan di dinding kamarnya juga, ia memasang poster besar bergambar karakter fiksi kesukaannya itu.
Atensi Leon yang tengah menatap buku seketika beralih saat melihat lutut Elvina yang terluka akibat jatuh tadi.
...***...