A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 112 - Pesona



Ada banyak sekali pakaian yang terpajang di sana, dan beberapa pengunjung toko yang cukup ramai tengah berbelanja.


Fokus orang-orang di sana tersita ketika Daniel dan kedua sahabatnya masuk.


Gadis-gadis di sana di buat terpesona oleh ketampanan pria yang baru saja tiba itu, sesekali mereka berbisik membicarakan Daniel.


Daniel tak menghiraukan tatapan mereka, dan terus melangkah bersama Jean dan Lucy menghampiri salah satu pegawai toko yang ada.


"A… ada yang bisa sa… saya bantu tu… tuan… tampan." Wanita itu berbisik pelan di akhir kalimatnya. Wajahnya merona ketika kedua manik mata mereka bertemu satu sama lain.


"Aku ingin bertemu dengan nona Maria, apakah beliau ada?" tanya Daniel yang kemudian mengalihkan fokusnya ke arah kertas digenggamnya.


Jean dan Lucy di belakang sana menatap pegawai itu dengan tatapan datar. Apalagi Jean, gadis itu tampak tak setuju dengan ucapan wanita yang baru saja memanggil sahabatnya itu tampan.


"Se… sebentar biar saya panggilkan," ucapnya yang kemudian bergegas beranjak dari sana untuk memanggil orang yang sedang mereka bertiga cari.



"Tampan apanya? Ketampananmu itu bahkan jauh di bawah rata-rata." Jean meledek.


"Kau ini kenapa senang sekali meledekku? Apakah kau iri karena tidak memiliki fans sepertiku atau karena tidak ada yang memanggilmu cantik?" balas Daniel yang dalam sekejap berhasil membuat wajah gadis itu berubah merah padam.


"M… menyebalkan!" gerutu Jean dengan wajah kesal.


Daniel hanya terkekeh pelan menanggapi kalimatnya. Ia benar-benar puas sudah membuat gadis itu emosi.


Sementara mereka berdua sibuk berdebat, beda halnya dengan Lucy yang kini sibuk pada baju-baju yang tergantung di sana.


Di dekat mereka, Lucy memandangi pakaian yang diduganya adalah hasil desain langsung oleh Maria dan ibunya.


Dari banyaknya pelanggan dan bagaimana pakaian di sana tergantung, Lucy dapat menyimpulkan kalau Maria dan ibunya sepertinya memang memiliki tangan yang benar-benar terampil dan ahli dalam dunia fashion.


Ia mulai fokus melihat-lihat pakaian di sana.


Jean terperangah ketika melihat semua desain baju yang tampak begitu bagus, belum lagi dengan bahan kain yang digunakan untuk baju itu, semuanya benar-benar pas untuk selera orang seperti dirinya.


Tak lama menunggu, pegawai yang tadi di tanya Daniel kembali menghampiri mereka.


"Nona sudah menunggu kalian sejak tadi, beliau meminta saya untuk mengantarkan kalian. Mari ikut saya," katanya.


"Kau begitu tunjukkan jalannya," ujar Jean.


"Baik, ayo!" Pegawai itu berjalan di depan mereka, mengarahkan mereka ke tempat dimana Maria berada.


Mereka diarahkan ke bagian lain dari toko pakaian itu, tak jauh dari tempat semula mereka berada, mereka berhenti tepat di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat.


"Nona Maria ada di dalam."


"Baik, terima kasih," sahut Daniel seraya tersenyum ke arahnya.


Raut wajah pegawai wanita itu semakin memerah, ia hampir saja terjatuh ketika tengah berdiri di hadapannya.


Beruntung dinding di belakangnya berhasil menahan tubuhnya agar tidak tersungkur jatuh ke lantai.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Daniel dengan raut wajah cemas saat melihat wanita itu mendadak lunglai dan bersandar pada dingin.


"Sa… saya baik-baik saja," ucap wanita itu cepat. Ia segera membenahi posisinya. "Saya permisi," pamitnya.


...***...