
Malam semakin larut. Lucy masuk ke dalam rumahnya begitu orang suruhan Bean mengantarkannya hingga rumah.
Blam!
Lucy menutup pintu depannya. Ia bersandar pada pintu yang baru saja ditutupnya.
"Aku pulang," gumamnya pelan sembari menatap ke sekeliling rumahnya.
Rumahnya sepi. Sama seperti biasanya.
Bumah besar bak istana itu, hanya ditempati olehnya seorang. Tetapi walaupun hanya ditempati seorang, serta sudah lama ditinggalkan untuk menjalani misinya, rumah Lucy tetap terawat.
Semua itu berkat Amanda yang awalnya merasa kasihan begitu membayangkan Lucy harus membersihkan rumah besarnya sendirian setiap hari.
Berapa banyak waktu yang ia habiskan, dan berapa banyak barang yang harus ia bersihkan.
Di tambah lagi, dengan pekerjaan Lucy sebagai mata-mata yang selalu mendapat tugas menumpuk, membuat waktu luangnya tentu saja tak banyak.
Akhirnya setelah mendapat izin secara langsung dari Lucy, Amanda segera menempatkan beberapa mesin canggih ciptaannya untuk membantu rumah Lucy agar tetap terawat.
Amanda menempatkan mesin khusus yang dapat secara otomatis mengendalikan listrik agar mati dan menyala pada waktu yang tepat.
Ia juga menempatkan mesin khusus yang dapat mengendalikan tirai agar secara otomatis tertutup dan terbuka pada waktu yang benar.
Sedangkan untuk urusan pembersihan dan hal lainnya, Amanda membuatkan robot canggih untuk rumahnya.
Setidaknya ada kurang lebih lima belas robot dengan kemampuan khusus yang diciptakan Amanda.
Robot itu diciptakan dengan kecerdasan buatan yang memampukan robot-robot itu, mengerjakan tugas mereka dengan baik.
Setelah tugas robot-robot itu selesai, mereka akan secara otomatis bergerak kembali ke ruang penyimpanan dan diam dalam mode off untuk pengisian baterai agar siap melaksanakan pekerjaan di hari berikutnya.
"Aku benar-benar merindukan rumah." Lucy memonolog. Ia beranjak dari tempatnya, melangkah menuju lantai dua agar bisa tiba di kamar tidurnya.
Tiba di kamar, Lucy segera duduk di atas ranjang. Ia sibuk melepas high heels yang terpasang di kedua kaki jenjangnya.
Lucy merasa pegal. Bahkan kalinya hampir kesemutan saat harus terus memakai heels untuk bepergian.
Begitu selesai, Lucy merebahkan tubuhnya sejenak di atas ranjang.
Kedua manik matanya memandang ke arah langit-langit kamarnya.
"Misi kali ini cukup melelahkan. Aku sampai harus ke Prancis untuk menangkapnya."
"Tapi setidaknya dengan aku ke Prancis, aku bisa bertemu dengan Aami dan Ancel." Lucy tersenyum simpul mengingat pertemuannya dengan mereka berdua.
Lucy bangkit ketika ingat akan barang yang dibawanya.
"Oh ya, apa yang tadi berikut Aami padaku?" Lucy beralih meraih tote bag miliknya dan mengeluarkan bingkisan di dalamnya.
Lucy membuka bingkisan itu secara perlahan hingga ia bisa melihat kubikel kecil di dalamnya.
Lucy tersenyum simpul melihat apa yang kini berada dihadapannya.
"Ternyata Aami masih ingat dengan makanan kesukaanku dan Leon," gumamnya.
Lucy meraih satu macaron dan menggigitnya pelan.
Menikmati macaron yang diberikan Aami padanya, membuat Lucy seakan kembali bernostalgia dengan zaman dulu, ketika ia masih kecil dan masih sering datang mengunjungi Paris.
"Ternyata rasanya sama saja. Bahkan tidak ada yang berubah. Hanya ada beberapa varian baru saja yang sepertinya sama lezatnya."
Lucy beralih menikmati macaron rasa lain yang ada di kotak miliknya.
...***...