A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 48 - Toilet



Begitu hidangan yang di pesan mereka sudah tiba, mereka segera menyantapnya.


"Lou, kau harus coba ini." Jean menyuapkan makanan yang di pesannya pada Lucy agar sahabatnya itu dapat mencicipi kelezatannya.


"Bagaimana, enak 'kan?"


Lucy menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku yakin kau pasti akan lebih menyukai ini!" Kini giliran Daniel yang menyuapi Lucy dengan makanan yang dipesannya.


"Iya, ini juga enak," tutur Lucy seraya terus mengunyah makan dimulutnya.


"Benar 'kan, apa yang kubilang? Kau pasti menyukainya."


"Kau ini ikut-ikutan saja!" Jean mendelik ke arah Daniel dengan raut wajah sebal.


Daniel menghiraukan ucapannya dan terus menyuapi Lucy dengan beberapa hidangan lain yang juga dia pesan.


Jean tidak mau kalah, dia juga memberikan makanan yang dipesannya untuk dicicipi Lucy.


Yang lain sibuk mengobrol sedangkan Lucy sibuk menghadapi kedua sahabatnya.


Amanda dan Aland yang berada di sebelah Jean merasa sebal karena tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan Lucy.


"Kau mau coba yang mana lagi?" tanya Jean setelah beberapa saat.


"Sudah cukup, aku akan makan sendiri. Jika kalian terus menyuapiku seperti ini, kapan kalian makannya?" Lucy menelan semua makanan yang baru dikunyahnya.


Ia tersenyum. Sikap hangat kedua sahabatnya itu tidak pernah berubah.


"Kalian juga makan," ucap Lucy pada keduanya.


"Baiklah-baiklah, kami juga akan makan." Jean dan Daniel berucap serentak.


Lucy meraih gelas minum, dan meneguk isinya hingga habis. Tangannya beralih meraih tisu guna mengelap bibirnya yang basah.


Tidak lama, Lucy lantas terdiam untuk sesaat.


Melihat keadaan orang-orang disekitarnya yang seperti ini, membuat dirinya seakan kembali di tarik menuju masa lalu.


Senyuman, kehangatan, dan tawa orang-orang di meja itu, membuatnya seakan di minta untuk kembali bernostalgia dengan masa-masa indahnya dulu.


Ingatan itu juga masih menjadi duri yang selalu menyakitinya.


Lucy hampir saja menangis. Namun, ia berhasil menahan air matanya supaya tidak jatuh dari kedua pelupuk matanya.


Drrkkk…


Suara derit kaki kursi yang di duduki Lucy membuat semua orang di meja itu beralih fokus ke arahnya.



"Aku permisi ke toilet sebentar," ujarnya sambil bangun dari kursinya.


"Perlu aku antar?" tawar Jean.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Lucy menolak dengan senyuman.


"Oh, baiklah."


"Kalian lanjutkan saja."


Lucy berlalu meninggalkan meja yang semula mereka duduki. Ia melangkah menuju arah toilet yang tersedia di sana.


Tiba di toilet, Lucy segera menghampiri wastafel kosong yang ada di sana. Berdiri di depan cermin seraya mencuci kedua tangannya dengan air keran.


Lucy terdiam menatap dirinya lewat pantulan cermin yang ada dihadapannya.


Kedua matanya lagi-lagi sudah berkaca-kaca dan nyaris menangis. Tapi ia berjuang keras untuk menahan air matanya agar tak tumpah.


"Jangan pernah ada air mata yang jatuh lagi," gumamnya menguatkan diri.


Lucy mengatur napasnya. Berusaha meredakan sesak yang membuat hatinya remuk redam bersama dengan ingatan dari kenangan pahitnya yang masih membekas dalam ingatan.


Lucy kembali membilas tangannya dengan air dan sabun. Setelah beberapa saat, ia kemudian mengeringkannya di hand dryer yang tersedia.


"Huft~" Lucy kembali mengatur napasnya sebelum melangkah pergi meninggalkan toilet untuk bergabung bersama teman-temannya yang lain di meja yang mereka tempati.


"Okay," gumamnya.


...***...