
Rak-rak itu berjejer rapi dengan tingginya mencapai sepuluh meter. Sehingga kau harus menaiki tangga terlebih dahulu agar bisa meraih buku yang berada di bagian atas.
"Tidak, Belum." Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kedua matanya masih terus mengedarkan pandangannya di sekitar rak buku yang di dekatnya.
Di sana, Jean berjalan disampingnya dengan beberapa buku tebal di tangan.
Ia terus mengikuti kemana Lucy melangkah, sampai-sampai tangannya yang terus memegang buku jadi terasa pegal.
Sementara Lucy dan Jean berkeliling, Daniel kini tengah duduk tenang di meja yang mengarah ke luar jendela.
Telinganya disumbat dengan menggunakan headset yang sebelumnya ia ambil dari dorm nya.
Ia sedang mendengarkan musik seraya merebahkan kepalanya di salah satu buku yang diambilnya dan digunakan sebagai bantal.
"Ayolah Lou, aku mulai pegal."
"Kau duduk lebih dulu saja, nanti aku akan menyusul begitu aku sudah menemukan buku yang aku cari," kata Lucy.
"Baiklah. Kalau begitu, aku duluan. Jika ada yang ingin kau tanyakan, langsung saja cari aku." Jean beranjak pergi.
Lucy masih berjalan sambil tatap buku-buku di rak itu, dari atas sampai bawah.
Ia mencari buku yang menjelaskan tentang informasi dari berbagai negara di dunia.
Ada yang ingin dicarinya dalam buku itu.
"Apakah buku itu tidak ada?" Ia bergumam.
Diraihnya salah satu buku di sana, lalu di buka.
Lucy membacanya sekilas, kemudian kembali menaruhnya ke tempat semula.
Ia tak menyerah dan terus mencari. Sampai akhirnya, ia benar-benar tiba di rak berisi buku yang dicarinya.
"Ah, Ini dia yang aku cari!" Lucy meraih buku yang sejak awal dicarinya.
Raut wajahnya tampak senang ketika ia berhasil menemukan buku itu.
Ia membuka perlahan buku ditangannya.
Lucy melangkah meninggalkan lorong penuh buku itu. Ia lalu menghampiri meja yang sejak beberapa saat yang lalu diisi oleh Jean dan Daniel.
Lucy mengambil duduk di salah satu kursi kosong.
Ia duduk tepat bersebelahan dengan Daniel yang terdiam menikmati musik yang di dengarnya.
Jean mendongak sekilas dari buku dihadapannya.
Ditatapnya Lucy yang duduk di sana.
"Kau sudah menemukan buku yang kau cari?" tanya Jean.
Lucy meliriknya, lalu menutup buku di tangannya.
"Iya. Aku sudah menemukannya," sahut Lucy.
Ia terdiam, dirinya baru sadar jika sebagian besar meja itu dipenuhi oleh buku-buku tebal yang dipinjam Jean untuk di baca.
"Astaga, banyak sekali buku yang kau pinjam. Apa kau akan membaca semua ini?" Lucy meraih salah satu buku tebal itu lalu membaca sampulnya.
Semua judul di sana menampakkan jelas kalau bacaan Jean terlalu berat untuk dipahami oleh gadis berusia tiga belas tahun.
Isinya membahas tentang teori-teori yang sulit untuk dipahami. Bahkan oleh Lucy sendiri.
Bisa dikatakan kalau buku-buku itu, lebih cocok di baca oleh seorang profesor atau ilmuwan yang bekerja di laboratorium.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja… apa kau memahami semua ini?"
"Ya, sedikit. Bagaimanapun, aku harus memahami semua ini. Orang tuaku terkadang memintaku untuk jadi sepintar mereka."
"Apakah orang tuamu bekerja sebagai seorang ilmuwan?"
"Kedua orang tuaku mata-mata. Tapi kakek dan nenek dari papaku… iya. Mereka seorang ilmuwan."
"Oh… begitu."
...***...