A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 55 - Tempat apa ini?



"Sekarang coba hindari yang ini!" Sheilla berteriak seraya melancarkan serangannya.


Lucy berhasil menangkis serangan gadis itu untuk yang kesekiankalinya.


Kini sebagian besar anak-anak di ruang latihan itu berkumpul dan mengerumuni mereka. Menyaksikan pertarungan hebat yang sejak awal tidak ada hentinya.


"Sheilla!" Suara itu membuat gadis yang tengah melawan Lucy spontan menoleh ke arah datangnya suara. Dalam keadaan lengah, Lucy berhasil mengalahkannya.


"Arghh…" Sheilla meringis saat tangannya secara tidak sengaja terpukul oleh tongkat yang digunakan Lucy.


"Astaga, maaf… Apa kau baik-baik saja?" Lucy bergegas menaruh tongkat di tangannya, lalu menghampiri Sheilla, guna memastikan keadaannya.


"Aku baik-baik saja," kata Sheilla.


"Benarkah? Apa perlu aku obati?"


"Tenang saja! Ini hanya luka kecil." Sheilla berusaha menenangkan Lucy.


"Sheilla." Suara itu, sekali lagi di dengar olehnya.


Lucy dan Sheilla mendongak menatap lelaki yang baru saja tiba di hadapan mereka.


Pria itu memakai jas berwarna hitam, Lucy tertegun melihat pria itu. Dia adalah pria yang diikuti olehnya hingga ia bisa sampai di tempat ini.


"Coach?" Sheilla terkejut dengan kedatangan Bean.


Bean beralih menatap Lucy di sana.


"Kau…" Bean menunjuk ke arah Lucy. Sheilla menoleh ke arah Lucy dengan raut wajah bingung.



"Ikut aku!" Bean menarik tangan Lucy. Sementara itu, Lucy tampak kebingungan dengan apa yang terjadi.


Ada apa ini? Apakah mereka mulai sadar jika aku tak sengaja masuk kesini? Lucy membatin.


Ia mulai khawatir kalau dia terungkap sebagai penyusup, bisa saja ia di hukum.


Sheilla tak tinggal diam, ia bergegas berlari mengikuti Lucy dan Bean bersama dengan beberapa orang teman sekelasnya.


Ia di bawa masuk ke dalam ruangan itu dan berdiri di depan Nico yang masih setia duduk di atas kursi kebesarannya.


Detik berikutnya, Bean beranjak pergi meninggalkan ruangan Nico tanpa berucap sepatah katapun.


Ia menutup pintu rapat. Di depan sana, Bean dikejutkan dengan anak-anak didiknya yang tengah berdiri dengan raut wajah penasaran.


Bean sudah berusaha untuk membubarkan mereka, tapi mereka bersikeras untuk tidak mau pergi sampai Lucy keluar dari dalam sana.


Lucy berdiri masih dengan raut wajah bingungnya.


Kedua manik matanya menatap Nico di sana. Pria itu balik menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kau mata-mata dari sindikat mata?" tanya Nico.


"Apa?" Lucy menaikkan sebelah alisnya. Tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Nico barusan.


"Sindikat mana yang menaungimu? Dan apa motif sindikatmu mengirim, serta memerintahkanmu untuk memata-matai sindikatku?" lanjutnya tanpa membiarkan Lucy menjawab.


Lucy masih terdiam, ia tidak mengerti dengan setiap kata yang diucapkan Nico padanya.


Di tambah lagi, dia sejak awal memang tak tahu sebenarnya tempat apa ini.


"Jawab!" pekiknya seraya menggebrak meja di depannya membuat Lucy tersentak kaget.


"M… maaf, aku tidak mengerti dengan apa yang anda bicarakan," lirih Lucy terus terang.


"Jangan berbohong. Apa perlu, aku memberikanmu hukuman lebih dulu agar kau mau berbicara?" Nico beranjak bangun dari tempat duduknya.


Ia berjalan menghampiri Liana, lalu menatapnya dari atas sampai bawah.


"Aku tidak akan bisa kau tipu dengan penyamaranmu," katanya.


"Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang anda bicarakan, lalu… ini tempat apa?"


...***...