A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 106 - Keputusan mutlak



Berharap Sheilla dan Grayson tak satu tim dengannya, karena kalau itu sampai terjadi, maka akan menjadi bencana baginya.


Adeline tahu kalau Sheilla dan Grayson ada dalam satu tim, maka timnya akan kacau.


Apalagi kalau dirinya berada di tengah-tengah mereka. Adeline akan merasa sangat kerepotan menghadapi mereka.


"…Sheilla," ucap Bean akhirnya. Kalimat itu seketika berhasil meluluh-lantakkan harapan mereka.


Sheilla dan Grayson tersentak. Air muka keduanya langsung berubah saat tahu lagi-lagi takdir menyatukan mereka dalam setiap situasi.


"Maaf, coach. Tapi aku tidak ingin satu tim dengan Grayson!" ucap Sheilla pada Bean dengan suara tidak setuju. Sebelah tangannya menunjuk ke arah pria disampingnya.


"Kau pikir memangnya siapa yang ingin satu tim denganmu, huh?" ketus Grayson.


"Aku juga tidak ingin satu tim denganmu!" balas Sheilla sengit.


"Diam! Sudah aku bilang keputusannya tidak bisa di ganggu gugat! Jika kalian ingin protes, silahkan temui Nico di ruangannya!" ujar Bean. Melerai pertikaian mereka.


Sheilla dan Grayson terdiam sambil menghela napas pasrah. Jika sudah berurusan dengan Nico, mereka tidak berani, karena keputusan yang sudah Nico ambil tidak akan mudah untuk diubah.


Pria itu terlalu berpegang teguh pada keputusan yang telah diambilnya, dan tidak akan ada yang bisa mengubahnya.


"Kalau kalian tidak ingin bertemu dengan sir. Nic, maka berhenti bertengkar!" tukas Bean.


Ia kembali melirik kertas yang dipegangnya.


"Selanjutnya tim kedua. Ada Lucy…" Bean menatap kertas di tangannya cukup lama. Membuat semua orang di sana semakin tegang.


Di sisi lain Jean dan Daniel berdoa supaya mereka berada di tim yang sama dengan Lucy.


"Elena, dan Beatrix!" lirihnya.


Jean dan Daniel tercekat, ketika mengetahui yang berada dalam satu tim dengan sahabat mereka adalah Beatrix.


Gadis yang selalu membuat masalah dan sangat membenci Lucy serta Elena.


"Selanjut di tim ketiga ada Daniel, Ethan, dan Jean." Bean melanjutkan pengumumannya.



...*...


Jean menaruh kaleng minumannya dengan sangat kasar. Lucy dan Daniel sampai kaget dibuatnya. Mereka spontan mendongak, menatap gadis yang baru saja tiba dengan raut wajah masam.


"Aku benar-benar kesal dengan sir. Nic! Padahal dia sendiri juga tahu kita itu tidak terpisahkan. Tapi dia malah membuat kita berpisah dengan cara menempatkan Lucy di tempat lain, huuh… aku kesal bercampur sedih." Jean merebahkan kepalanya di atas meja dengan bibir cemberut.


"Bukan hanya kau yang sebal, aku juga." Daniel menimpali.


Lucy menatap keduanya bergantian, ia mengerti dengan apa yang di rasakan Jean dan Daniel.


Karena bagaimanapun, dia juga merasa kecewa karena tidak berada dalam satu tim yang sama dengan mereka berdua.


"Aku tahu kalian sedih karena kita tidak bisa berada dalam satu tim yang sama. Tapi apa boleh buat? Kalian tahu sendiri bagaimana kerasnya sir. Nic 'kan…?"


"…Setiap keputusan yang dibuatnya bersifat mutlak." Lucy meraih kaleng sodanya.


...*...


Drap! Drap!


Gadis cantik yang tampak stylish itu melangkah tergesa di koridor yang penuh dengan orang-orang yang berlalu-lalang memenuhi sebagian koridor yang tapak sibuk.


Di tangannya, ia memeluk setumpuk kertas berisi hasil desain baju yang akan dia tampilkan beberapa saat lagi di depan banyak orang.


Maria. Berlari sekuat tenaga karena dirinya hampir terlambat.


...*...


"Sini! Biar aku bawa sebagian," tutur Jean pada Lucy.


...***...