A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 71 - Dalam balutan hujan



Gadis itu terdiam. Wajahnya terus dibasahi air mata yang terus menggenang.


Ia tak dapat berkata apa-apa ketika melihat orang-orang dewasa di sekitarnya berdiri dan mulai menaruh rangkaian bunga yang mereka bawa.


Tepat ke arah makam kedua orang tuanya yang baru saja selesai dimakamkan.


Beatrix tertunduk, gadis itu tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.


Bahkan saat ini saja, ia bingung harus pergi kemana.


Kedua orang tuanya sudah tidak ada, dan lagi rumah tempat ia tinggal sudah hangus terbakar menjadi abu tak bersisa.


Langit yang membentang luas lantas berubah kelam, hujan dalam seketika turun membasahi dirinya.


Lihat. Bahkan sang langit saja, kini tengah mengasihani dirinya yang begitu menyedihkan.


Semua yang dia miliki hangus hanya dalam waktu semalam.


Sekarang bukan hanya kasih sayang yang tidak dimilikinya. Tetapi juga tempat tinggal yang layak, dan keluarga yang lengkap.


Semuanya lenyap dalam seketika, menyisakan dirinya seorang, yang berdiri dalam balutan air hujan.


Dua pria di sana berdiri menatap sosok gadis itu dari arah belakang, payung hitam melindungi keduanya dari air hujan yang turun begitu deras membasahi bumi.


"Gadis yang malang, sekarang bahkan dia tidak memiliki tempat untuk bernaung," tutur lelaki bertubuh tinggi di samping lelaki satu lagi. Lelaki itu—Bean, memakai jas dan kemeja dengan warna hitam yang serupa.



"Kau benar, dan aku tidak mungkin bisa membiarkannya seorang diri," sahut Nico disampingnya.


"Apa yang akan kau lakukan, sir?" Bean menatap Nico yang berdiri tepat disampingnya.


"Aku akan membawanya sesuai permintaan Thomson."


"Thomson berkata untuk membawanya dengan anda?"


"Dan anda akan mengabulkan permintaan terakhirnya?"


"Tentu. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku padanya…"


"…Apalagi dia sudah sangat banyak membantuku ketika aku dan dia masih menjadi agen. Dia sudah sangat berjasa dalam hidupku," jelas Nico.


Orang-orang di sana satu persatu mulai pergi meninggalkan pemakaman. Menyisakan gadis kecil di sana seorang diri dalam guyuran air hujan.


Air matanya saat ini bahkan sudah tak terlihat lagi, sudah menyatu bersama dengan air hujan yang jatuh.


Nico dan Bean perlahan berjalan menghampiri gadis itu, air hujan yang semula membasahi tubuhnya, seketika terhalang oleh payung yang di bawa oleh Bean untuk memayungi Nico dan Beatrix secara bersamaan.


Nico berjongkok, kemudian menaruh rangkaian bunga indah di atas makam bernisan Thomson.


Beatrix dengan gaun hitam lengkap dengan sarung tangan dan topi kecil itu lantas mendongak menatap sosok pria yang baru saja menghampirinya.


Manik mata indah berwarna merah ruby itu menatap mereka dengan raut wajah bingung bercampur sedih.


"Ayah dan ibumu adalah orang baik. Mereka sudah melakukan kebaikan yang sangat banyak untuk membantuku." Nico berucap sambil beranjak bangun.


Berdiri tepat dihadapannya.


"Apa kalian mengenal ayah dan ibuku?" tanya Beatrix.


"Kami mengenalnya. Sangat. Sangat mengenalnya," sahut Nico.


Beatrix lalu kembali menundukkan kepalanya. Ia terdiam dan memandang nisan kedua orang tuanya.


Untuk sesaat keadaan hening dalam seketika, hanya rintikan hujan yang jatuh ke tanah yang dapat mereka dengar.


"Sebelum Thomson meninggal, dia berpesan padaku untuk menjaga Putri kandung satu-satunya," gumamnya.


...***...