
"Kau harus mengirimkan ini ke tempat yang sudah kita sepakati." Pria itu menyodorkan sebuah koper kecil hitam ke arah lelaki lain yang berdiri tepat dihadapannya.
Pria itu diam sejenak dengan wajah pucat. Keringat dingin tampak jelas menghiasi wajahnya.
"A… apakah anda yakin ini aman? Bagaimana kalau ada polisi yang mencurigai saya, kemudian—"
Brakk!
Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, lelaki lebih tua yang duduk dihadapannya sudah lebih dulu menggebrak meja dan menghentikan kalimatnya.
Pria itu tercekat. Ia langsung bungkam tanpa suara. Tangannya bahkan sampai gemetar tak berdaya.
Glup!
Ia menelan saliva-nya susah payah. Entah kenapa secara tiba-tiba ia merasakan adanya aura menyeramkan yang langsung merebak mengisi seluruh ruangan.
Aura menyeramkan itu berasal dari lelaki yang menjadi atasannya tersebut.
Lelaki itu memang hanya diam tanpa kata. Tapi satu kali lirikan matanya saja sudah cukup untuk membuat mentalnya ciut untuk membantah kalimatnya.
"Kau tidak akan dicurigai oleh polisi kalau kau tidak bertindak mencurigakan, mengerti?!" Suara dinginnya terdengar amat menyeramkan.
"B… baik, saya mengerti," katanya dengan terbata.
Lelaki itu bergegas meraih koper yang diberikan oleh pria tadi dan segera melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut.
...*...
"Dia sudah mulai bergerak!" tutur Elena, berbicara pada Lucy dan Beatrix di seberang sana.
Wanita itu mengecek lagi target mereka menggunakan teropong jarak jauh yang dia bawa. Mengarahkan benda itu ke arah lelaki di gedung seberang.
Letak gedung itu sekitar beberapa meter dari arah gedung tempatnya berada. Terhalang oleh sekitar tiga sampai empat gedung di sisi kiri.
Dari teropong yang dipegangnya, Elena bisa melihat lelaki itu berjalan dengan membawa sebuah koper hitam di tangannya.
"Hanya sendiri. Tapi ada yang berbeda dari yang aku amati."
"Apa?"
"Dari informasi yang coach berikan, pria yang biasa mengantarkan benda itu berbeda dengan yang sekarang aku lihat."
"Benarkah? Bagaimana ciri-cirinya?"
"Pria itu memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi, mungkin hanya sekitar seratus tujuh puluhan, wajahnya dipenuhi bintik, dan rambutnya agak kecokelatan. Dia mengenakan jas hitam dan dasi berwarna biru tua."
"Ini benar-benar berbeda dari yang kita lihat di foto dalam berkas itu. Bagaimana dengan barang yang dibawanya dan kendaraan yang dia pakai?"
"Mobilnya hitam. Untuk mobilnya tetap sama, begitu juga dengan koper yang dia bawa."
"Baiklah, setidaknya kita masih memiliki petunjuk untuk mengetahuinya."
"Ya, kalau begitu aku akan segera mengikutinya."
"Baik."
Elena bergerak secepatnya dari sana. Dengan menggunakan tangga darurat, ia segera turun menuju lantai paling dasar.
"Beatrix, bagaimana denganmu?" Sementara terus berjalan, Elena bisa mendengar suara Lucy yang Berusaha berkomunikasi dengan Beatrix di seberang sana.
"Kau sudah siap di posisi 'kan? Ingat rencana yang telah kita buat. Kau akan menggiringnya menuju lokasi yang salah, dengan begitu kita bisa menangkapnya dan mengamankan bukti!"
"Jangan mendikteku! Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Menyebalkan." Beatrix terdengar menggerutu di seberang sana.
"Aku hanya berusaha mengingatkan. Aku tidak ingin sampai hari ini kita gagal menjalankan misinya."
"Aku mengerti! Jadi berhentilah bersikap seolah kau adalah pemimpin dalam tim ini!" tukasnya dengan gusar.
Beruntung Lucy bukan tipikal yang emosian.
...***...