
"Apakah sakit?" tanyanya. Leon menggeleng pelan. Maxime menghela napas lega begitu mengetahui jawaban atas pertanyaannya. Ia mempererat pelukannya pada Leon.
"Dieu merci," ucapnya lega. Maxime kemudian menurunkan Leon dari gendongannya.
(Syukurlah)
"Oh ya, papa membeli makanan untuk kita makan malam." Maxime menunjukkan sebuah bingkisan yang ia bawa di tangannya. "Nanti kita makan malam bersama, ya."
Leon hanya menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu biar mama siapkan dulu." Maxime memberikan bingkisan itu pada Zabrina.
Zabrina bergegas pergi ke dapur untuk menaruh isi bingkisan itu ke dalam wadah untuk mereka makan bersama saat makan malam.
Leon kembali menghampiri Liana. Keduanya duduk di salah satu sofa empuk, dan mulai memakan macaron yang tadi diberikan Theodore.
Di sisi lain, Theodore duduk bersebelahan dengan Maxime yang baru tiba. Keduanya mulai mengobrol sambil beristirahat sejenak guna meredakan penat.
...*...
Usai makan malam dengan anggota keluarga lengkap La Vergne, Liana dan Leon lantas bersiap untuk tidur di kamar masing-masing.
Keduanya ditidurkan oleh orang tua mereka.
Leon, seperti biasa, akan tidur sesudah mendengar cerita tentang Arsène Lupin dari Maxime.
Sementara Liana, saat ini baru saja selesai menggosok giginya dan beranjak menaiki tempat tidur kebesarannya.
Dalam balutan selimut lembut dan bantal besar, dirinya berbaring. Di atas ranjang empuk itu dirinya ditemani Caroline yang selalu menemaninya sampai dia benar-benar tertidur.
"Dear?" Caroline berucap membuat Liana yang kini berada dalam dekapannya itu, mendongak menatap sosok mamanya.
Caroline dan Liana saling pandang, Liana menatap mamanya dengan raut wajah penasaran. Ia masih menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan Caroline padanya.
"Apakah selama ini kau kesulitan untuk mempelajari bahasa Prancis?" tanya Caroline setelah menggantungkan ucapannya beberapa saat.
"Memang cukup sulit, tapi rasanya menyenangkan bisa belajar bahasa Prancis. Jadi, selain aku bisa berbicara bahasa Inggris, aku juga bisa bahasa Prancis," tuturnya terus terang.
"Begitu ya… lalu, apakah kau suka tinggal di sini, di rumah kakek?"
"Aku senang. Karena aku bisa bermain bersama Leon dan melindunginya dari anak-anak nakal yang selalu mengganggunya." Pandangan Liana kini beralih menatap langit-langit kamarnya yang diterangi cahaya lampu.
"Jika dibandingkan antara London dan Paris, kau lebih suka tinggal dimana?"
"Um..." Liana berpikir sejenak, ia menimbang-nimbang dulu sebelum menjawab pertanyaan dari Caroline.
"Entahlah, aku tidak tahu. Aku suka tinggal di London, karena kalau di sini, aku tidak dapat bermain di luar sesuka hatiku. Ancel dan Aami selalu mengawasiku dan Leon saat bermain, itu cukup menggangguku. Tapi disisi lain… aku juga suka tinggal di sini karena aku bisa memiliki seseorang untuk diajak bermain." Raut wajah Liana berubah bimbang.
"Do you miss London?" sambung Caroline. Mendengar pertanyaan Caroline, Liana terdiam sejenak.
(Apakah kau merindukan London?)
Ia tampak berpikir dan mencoba menerjemahkan perasaan yang tengah dirasakannya saat ini.
"Um, Yeah. I miss, but... I happy here because I can be with Leon," gumam Liana pelan. Sudah beberapa bulan Liana dan keluarganya tinggal di Prancis untuk merayakan Noël dan La Saint-Sylvestre.
(Aku rindu, tapi... aku senang disini karena aku dapat bersama dengan Leon)
...***...