A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 49 - Jay



Brukk!


Seorang lelaki menabraknya dari arah belakang hingga membuat Lucy nyaris jatuh dibuatnya. Beruntung Lucy bisa menahan tubuhnya.


"Sorry," ujar lelaki itu saat sadar baru saja menabrak tubuhnya di depan pintu keluar.


Lucy beradu tatap dengan pria berambut albino itu.


"Tidak apa-apa," gumam Lucy.


Pria itu diam memperhatikan Lucy yang berdiri dihadapannya. Ia mengerutkan kening.


Aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana? Lelaki itu mengerutkan kening. Berusaha mengingat.


Oh! Gadis yang tadi diperebutkan oleh orang-orang yang duduk di meja besar! batinnya dengan mata terbelalak.


"Lucy!" Aland berteriak memanggilnya dari arah parkiran. Fokus wanita itu langsung tertuju pada lelaki berambut cokelat tersebut.


Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menghampiri Aland yang sudah ada di depan mobil bersama Amanda.


Jay, lelaki yang baru saja menabraknya itu hendak menyapa Lucy, tapi wanita itu sudah lebih dulu pernah dengan Aland dan yang lainnya.


Mereka telah menyelesaikan sarapannya, dan sepertinya akan melanjutkan perjalanan menuju tempat lain.


"Sangat di sayangkan, padahal aku ingin berkenalan secara langsung dengannya," gumam lelaki albino yang kini berdiri di depan pintu restoran.



...*...


Waktu terlalu. Matahari terus bergerak seiring dengan berjalannya waktu.


Sore perlahan tiba dengan matahari yang condong ke arah barat sebagai tandanya.


Setelah melakukan keseruan selama seharian, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke markas untuk mengakhiri semuanya.


Nico dan yang lainnya menghentikan mobil mereka di depan gedung utama SGLS.


"Terima kasih untuk hari ini, sir," ujar Daniel.


"Bukan masalah," sahut Nico.


"Okay, asalkan kau bekerja lebih keras untuk menyelesaikan setiap misi yang kami berikan." Bean menjawab.


"Aku pasti akan lebih bekerja keras!" Amanda berapi-api. Sejak tadi, gadis itu adalah yang paling aktif dan paling cerewet di banding yang lainnya.


Amanda bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama James kecil. Menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang.


"Baiklah karena ini sudah sore, lebih baik kalian pulang dan beristirahat. Besok, kalian harus kembali bekerja." Nico mengalihkan pembicaraan.


"Baik, sir." Mereka berucap serentak.


"Aku duluan." Nico berbalik meninggalkan yang lainnya. Melangkah masuk ke dalam gedung yang kemudian diikuti oleh Bean setelah pamit pada semua anak didiknya.


"Kami juga akan pulang. Sepertinya James benar-benar kelelahan setelah bermain bersama," ucap Sheilla yang kini menatap putranya yang sedang digendong Grayson.


"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa besok." Amanda menjawab.


"Kami duluan." Grayson pamit yang hanya di balas anggukan oleh yang lainnya.


Lelaki itu melangkah pergi dengan istri dan anaknya. Masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan mereka.


"Lou, bagaimana kalau kami berikan kau tumpangan?" Jean dan Daniel berucap.


"Boleh. Tapi memangnya Ethan tidak pulang bersama kalian?" Lucy menatap lelaki yang berdiri di dekat Amanda itu.


"Aku akan tinggal di dorm untuk beberapa hari ini karena aku sedang malas pulang," balas Ethan.


"Baiklah. Kalau begitu aku ikut dengan kalian," kata Lucy pada kedua sahabatnya.


"Ah, semuanya udah mulai pulang. Itu artinya kesenangan kita berakhir sampai di sini?" Amanda menampakkan raut wajah murung.


"Lain kali, kita bisa bersenang-senang bersama lagi." Jean berusaha menghiburnya.


"Sungguh?" Amanda mendadak berbinar.


"Ya." Jean mengangguk.


...***...