A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 34 - Persetan



Aami melongok. Mematung ditempatnya tak bisa berkata-kata melihat apa yang terjadi.


"Aami!" Ancel bergerak cepat menariknya.


"M… maaf nyonya, saya mengganggu," ucap Aami seraya membungkuk.


"S… saya permisi. Silahkan lanjutkan lagi." Aami bergegas menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


Blam!


Ia berdiri membelakangi pintu dengan wajah yang benar-benar merah bak tomat siap panen.


Ia terdiam sesaat masih mencoba mencerna kejadian ambigu yang baru saja dialaminya. Aami baru melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.


"Aami?" Ancel mencoba memastikan jika wanita itu masih berada disana.


"Argghh! Tu es stupide Aami!" pekiknya pelan seraya berlari meninggalkan Ancel yang masih di sana.


(Kau bodoh Aami!)


"A… Aami!" Ancel mengejarnya.


Sementara itu, Theodore bergegas bangun dan cepat-cepat mengunci pintu kamarnya agar tak ada yang mengganggu mereka lagi.


Ia menghela napas lega begitu akhirnya pintu kamar mereka sudah terkunci.


Theodore berdiri bersandar pada pintu sambil memegangi dadanya yang masih terus berdebar kencang akibat perasaan terkejut yang luar biasa.


"Mereka sudah pergi?" Caroline bertanya. Theodore menganggukkan kepalanya hingga membuat Caroline ikut merasa lega.


"Are you okay, honey?" tanya Caroline memastikan. Theodore menghampirinya, lalu duduk di tepi ranjang.


"Yeah, I'm okay," sahutnya. Theodore naik kembali ke atas ranjang.


"Sudah kubilang, jangan! Kau tidak mau mendengarkanku!" Caroline menatapnya sebal.


Theodore mendekatkan wajahnya pada Caroline.


"Kau bilang jangan. Tapi, kau tetap menikmatinya." Theodore tersenyum menggodanya.


Wajah Caroline memerah. Ia baru sadar kalau dirinya juga saat ini dalam keadaan tanpa busana, hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


"A… aku tidak menikmatinya. Aku hanya terbawa suasana," elak Caroline sambil memalingkan wajahnya yang memerah ke arah lain.


Theodore terkekeh mendengarnya.


Caroline semakin bersemu.


"Ayo kita lanjutkan," bisiknya tepat di telinga Caroline.


Wanita itu, menoleh ke arahnya. Tanpa aba-aba, Theodore menarik tubuhnya.


Keduanya menghabiskan sepanjang malam itu dalam balutan selimut hangat.



...*...


Aami bergegas mengambil air. Ia mengguyur wajahnya sendiri dengan air putih membuat baju maid classical yang dikenakannya basah dalam sekejap.


Ancel yang baru saja tiba menatapnya dengan wajah terkejut.


"Persetan dengan rasa penasaran!" umpatnya sambil menaruh gelas ditangannya dengan kasar.


"Astaga, apa yang kau lakukan?" Ancel bingung.


Aami mendelik sebal. Jika bukan Ancel yang mengomporinya dan memancing rasa penasarannya, maka dia tidak akan melakukan hal memalukan seperti tadi.


"Ini semua gara-gara kau. Kalau saja kau tidak memancing rasa penasaranku, maka aku tidak akan melakukan hal memalukan tadi!" pekik Aami penuh emosi.


Ancel menampakkan wajah polosnya. Ia merasa, itu bukanlah salahnya.


Aami berbalik. Menghantamkan keras-keras kepalanya pada meja.


"Sekarang mau di taruh dimana mukaku? Besok aku tidak akan punya muka untuk berhadapan dengan nyonya Caroline dan tuan Theodore. Dan ini semua salahmu, Ancel!" gumamnya.


"Tunggu. Kenapa kau menyalahkan aku?" Ancel tak terima.


"Jika kau tidak memancing rasa penasaranku, aku pasti tidak akan melakukan hal memalukan seperti tadi!"


"Tapi aku tidak…"


"Arrgghhh! Sudahlah. Aku akan pergi tidur. Kalau sudah kau habiskan kopi dan camilannya, cuci gelas kotornya sendiri!" potong Aami cepat. Lantas mengangkat sedikit baju maid-nya lalu bergegas berjalan menuju arah kamarnya dengan langkah besar.


"Tapi, Aami…"


"Aku tidak dengar!" teriak Aami.


...***...