A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 17 - Bocah nakal



Anak perempuan itu berkacak pinggang, matanya menatap sinis ke ketiga anak laki-laki seumurannya.


"Pergi! Jangan mengganggu sepupuku lagi!" ujarnya dengan nada marah. Ketiganya hanya diam dengan senyuman miring.


"Lihat! Dia ingin menjadi sok pahlawan di depan sepupunya," kata salah satu anak laki-laki di sana dalam bahasa Prancis.


Ia menunjuk anak perempuan itu kemudian mereka tertawa meremehkannya.


Anak perempuan itu, menghiraukan ejekan mereka pada dirinya, ia bergegas berbalik untuk membantu sepupu laki-lakinya yang kini tersungkur di tanah bersalju.


Baju yang dikenakannya basah, dan di beberapa bagian tubuhnya lebam akibat perlakuan kasar ketiga anak-anak tadi.


Mata anak itu berkaca-kaca. Tampaknya, tadi ia menangis. Tapi, air matanya di hapus begitu menyadari anak perempuan itu datang menghampirinya.


"Leon, kau tidak apa-apa?" tanyanya, memastikan. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Leon.


Belum sempat ia membantunya berdiri, ketiga anak laki-laki yang tadi mengganggu Leon, mendorong tubuhnya hingga terjerembab jatuh ke tanah bersemen. Lututnya sampai terluka akibat di dorong mereka sangat keras.


"Hahaha, lihat! Dia jatuh!" Mereka tertawa puas ketika melihatnya jatuh ke tanah.


Anak perempuan itu menoleh ke arah mereka, raut wajahnya semakin menampakkan kekesalannya. Ia berdiri, matanya menatap tajam ke arah mereka.



Dia kemudian balas mendorong anak tadi hingga membuatnya jatuh ke tanah, dan meringis kesakitan.


"Hey! Kau berani pada kami!" Salah satunya menatap kesal padanya saat melihat salah satu temannya di dorong, sedangkan yang satu membantu anak tadi untuk berdiri.


Anak yang paling tinggi mendorong tubuhnya, tetapi tak berhasil membuatnya jatuh.


Anak perempuan itu kemudian menggigit tangannya hingga ia menjerit kesakitan, si gendut yang tadi membantu temannya berdiri kemudian mencoba melawan anak perempuan itu, tetapi di tendangnya kaki si gendut dengan keras oleh anak perempuan tadi hingga ia menangis kesakitan karena kakinya di tendang dengan boots keras yang menutupi kaki perempuan itu.


(Pergi! Dasar bocah nakal!)


"Awas kau, akan kuadukan kau pada ibuku!" tutur mereka dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca.


"Kau pikir aku takut? Pergi?!" teriaknya mengusir mereka. Ketiganya berlari dengan keadaan menangis seraya memanggil ibunya.


Sepeninggalan tiga anak itu, ia menghela napas mencoba meredakan amarahnya.


Ia berbalik menatap Leon yang kini masih tersungkur di tanah bersalju dengan keadaan kacau.


Raut wajahnya begitu terkejut saat melihat dia yang begitu beringas melawan tiga anak yang baru saja mengganggunya.


"Kau tidak apa-apa 'kan?" tanyanya. Leon menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Gadis itu lalu membantu Leon untuk berdiri.


"Lihat. Ya ampun, kau kotor sekali. Tante Zabrina pasti akan memarahimu habis-habisan," ucapnya. Leon hanya diam, kedua manik matanya memandang anak perempuan itu lekat.


"Ayo duduk dulu di sini, biar kubersihkan sedikit." Gadis itu menarik tangan Leon, dan membawanya duduk di sebuah bangunan terbuka di dekat sana.


Ia membantu Leon untuk membersihkan sedikit tubuhnya yang kotor.


"Sudah. Setidaknya, tidak terlalu kotor," ucapnya seraya tersenyum begitu ia selesai membersihkan sedikit pakaiannya yang kotor.


Leon ikut tersenyum, ia masih menatapnya.


"Lain kali, kau harus berani untuk melawan mereka. Jangan biarkan mereka mengganggumu!"


...***...