
"Orang tuaku tidak ingin kalau aku kalah pintar dari kakak-kakak atau adik-adik sepupuku yang diajarkan banyak hal oleh kakek dan nenekku…"
"…Maka dari itu mereka memintaku untuk belajar keras dan menjadi sepintar mereka walaupun aku tidak banyak menerima hal-hal yang diajarkan kakek dan nenekku. Oh ya, Kau sendiri baca apa?" Jean menengadahkan buku yang di pegang Lucy agar bisa dengan mudah, ia melihat isinya.
"Informasi dari negara-negara di berbagai dunia, untuk apa?" tanya Jean.
"Ah aku tahu, kau pasti sedang mempersiapkan diri untuk debut resmi menjadi agen lapangan 'kan?" tebak Jean tanpa mendengarkan penjelasan Lucy.
"Bukan. Aku ingin mencaritahu tentang salah satu negara tempat adik sepupuku tinggal," kata Lucy.
"Memangnya dia tidak tinggal di Inggris?" Jean tampak tertarik.
Ia menutup buku di tangannya. Melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Lucy dengan wajah antusias.
"Dia tidak tinggal di Inggris."
"Lalu, kalau dia tidak tinggal di Inggris. Dimana dia tinggal?" tanya Jean.
Lucy membuka buku di tangannya. Mencari salah satu negara yang dicarinya.
Begitu halaman itu ditemukannya, ia menunjukkan peta yang berada di buku itu dan menaruhnya di atas meja, agar Jean dapat melihatnya.
"Dia tinggal di sini," tutur Lucy.
"Indonesia?"
"Iya. Awalnya, dia tinggal di Prancis. Tapi karena satu dan lain hal, uncle-ku akhirnya memutuskan untuk pindah dan menetap di Indonesia."
...*...
2012
Brukk!
Gadis itu perlahan merosot jatuh ke lantai dengan keadaan terduduk. Matanya berkaca-kaca, dan air matanya mulai berjatuhan melewati pipi mulusnya.
Beatrix menatapnya tajam. Sebuah seringai jahat terukir di wajahnya.
Ada kebencian yang luar biasa besar terpancar dari kedua manik mata ruby-nya. Apalagi saat kedua matanya menatap sosok gadis bersurai panjang yang sekarang terduduk dihadapannya.
"Lihat! Tubuhmu saja bahkan sangat lemah. Kau bahkan tidak mampu menahan seranganku!" Beatrix menatapnya dengan pandangan meremehkan.
Gadis itu mendongak. Menatap sosok gadis dihadapannya. Ada sebuah tanda tanya besar dalam benaknya yang selama ini membuat dia penasaran akan semua perlakuan Beatrix padanya.
Gadis berambut pendek sebahu itu menghampirinya. Ia menarik kasar kaos yang dikenakannya.
Diangkatnya tubuh Elena hingga ia berdiri, kemudian ia di dorong dan tubuhnya di himpit keras ke arah dinding dekat wastafel.
"Kau tahu? Hidupku lebih baik jika kau tidak ada," bisiknya tepat di telinga Elena.
Elena yang sejak tadi ditindasnya itu tak tinggal diam. Tangannya sebisa mungkin berusaha melepaskan cengkeraman tangan Beatrix darinya. Kaos itu di tarik hingga mencekik lehernya.
"K… kenapa? Kenapa kau begitu membenciku? A… aku salah apa padamu sehingga kau sangat benci padaku?" Elena berucap lirih. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
Beatrix semakin mengeratkan cengkeramannya. Ia masih menatap Elena tajam.
Bahkan tatapannya bagai seorang pembunuh berdarah dingin.
"Kau tanya kenapa?! Kau tanya kenapa aku melakukan semua ini padamu?"
Elena meronta mencoba membebaskan diri dari Beatrix. Namun usahanya gagal. Seberapa keras pun dia berusaha, tetap tidak dapat membebaskan diri darinya.
Nafas Elena mulai terasa sesak. Apalagi saat Beatrix mengencangkan cengkeramannya.
"Harusnya kau berkaca! Apa yang kau lakukan semenjak kau datang. Apa perlu kujelaskan?!"
...***...