A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 45 - Push up



Ruangan itu bak kapal pecah.


Barang-barang di sana berserakan di lantai. Karpet permadani lembut yang semula terhampar rapi di sana kini berubah posisi tak karuan.


Dan hiasan serta lukisan-lukisan mahalnya yang tergantung di dinding, kini benar-benar tak beraturan.


Salah satunya jatuh ke lantai, dan salah satunya menjadi miring, selain itu lukisan lain masih tergantung rapi dan aman di dinding.


"Apa-apaan yang kalian lakukan ini!" Nico memekik. Suaranya nyaring dan memekakkan telinga.


Kelima orang yang sedari tadi membuat kegaduhan, spontan menoleh serentak ke arah pintu. Tepatnya ke arah Nico yang berdiri bersama Grayson disampingnya.


Glup!


Kelimanya menelan ludah susah payah. Wajah mereka berubah pucat, saat melihat pimpinan mereka tiba di sana dengan raut wajah menakutkan.


Nico melangkah masuk diikuti Grayson dibelakangnya.



Kedua tangannya ke belakang. Dengan langkah tegap, ia berjalan menghampiri Lucy dan yang lain.


Jean, Daniel, Aland, Amanda, dan Lucy bergegas berdiri tegak. Berbaris berderet di sana, masih dengan wajah pucat.


Nico menatap tajam kelimanya dengan tatapan yang cukup untuk membuat keringat dingin mengucur di kening mereka.


Ia meliriknya dari atas sampai bawah.


Penampilan mereka yang semula rapi, kini berantakkan bukan main. Sama halnya dengan ruangan itu yang telah mereka porak porandakan bak diterjang angin topan.


"Push up enam puluh kali. Sekarang!" pekiknya disertai semburan hujan lokal.


Mereka lantas turun mengambil posisi untuk push up seperti perintah Nico, dan mereka mulai berhitung.


"Aku tidak habis pikir dengan sikap kalian. Sungguh kekanak-kanakan, dan sama sekali tidak bisa dipercaya. Seorang agen mata-mata seperti kalian bisa bertingkah seperti ini. Bagaimana kalau junior kalian melihat semua dan menirunya tadi? Bayangkan jika ada sepuluh orang saja yang seperti kalian. Yang ada gedung-gedung di sini hancur." Nico menghela napas kasar.


Padahal sudah bertahun-tahun mereka berada dalam sindikat ini, tetapi tingkah mereka tetap seperti anak kecil.


Enam Puluh sudah kelimanya menyelesaikan hukuman mereka. Sekarang kelimanya berdiri tegap di sana, di belakang Nico yang kini berdiri membelakangi mereka.


Nico menoleh sekilas. Melirik, lewat ekor matanya.


"Sekarang bereskan lagi tempat ini seperti semula," titahnya.


"Baik, Sir," sahut mereka serentak. Semuanya segera berpencar membereskan bagian yang berbeda di ruangan itu.


Sementara yang lain sibuk membereskan kekacauan, beda halnya dengan Grayson yang kini berjalan menghampiri anak dan istrinya yang sejak tadi duduk di sofa empuk bersama dengan kedua rekannya yang lain.


Ethan, Adeline, dan Sheilla sekarang diam menonton Lucy dan yang lain yang tengah membereskan kekacauan yang telah mereka buat.


Begitu kekacauan yang mereka buat sudah dibereskan, semuanya segera duduk bersama di kursi yang sudah ada sejak awal di sana.


Di meja besar, mereka duduk berjajar rapi di sisi kiri dan kanan meja. Sementara itu, Nico duduk menengahi di ujung meja.


Tak lama setelah mereka duduk, Bean datang dan ikut bergabung dengan mereka.


Pria itu baru saja selesai mengerjakan tugasnya yang ada. Begitu selesai, ia segera memutuskan untuk bergabung. Tidak mungkin dirinya tidak hadir dalam acara khusus menyambut anak-anak buahnya yang baru saja kembali dari menjalankan tugas mereka.


"Okay, langsung saja ke intinya."


...***...