
Setiap hari, mereka bertengkar bak sepasang kekasih yang tidak pernah akur, dan anehnya walau keduanya saling membenci, tapi takdir selalu mempertemukan mereka dalam berbagai situasi.
Beberapa bulan sudah berlalu.
Setelah melewati perpisahan, libur panjang, tes masuk, adaptasi dengan sekolah baru, dan lain sebagainya. Akhirnya Lucy kembali menjalani kehidupannya sebagai seorang agen pelatihan.
Sudah beberapa Minggu terakhir ini dirinya tidak bertemu dengan Jean dan Daniel.
Jean tengah sibuk dengan beberapa tugasnya di sekolah baru. Di tambah lagi karena ia sudah mulai beranjak melanjutkan studi lebih lanjut, kedua orang tuanya meminta dia untuk lebih giat belajar lagi dibandingkan sebelumnya.
Sekarang yang lebih sering dilakukan oleh Jean adalah belajar, berlatih di ruang latihan dengan beberapa teman lain, makan, lalu kembali melanjutkan pelajaran sampai waktunya tidur.
Hampir tidak ada waktu untuk dirinya main. Apalagi di sekolah barunya ini, ia sudah mendapatkan banyak tugas dari beberapa pelajaran yang berbeda.
Di sisi lain, Daniel sekarang juga sibuk dengan banyak urusannya.
Neneknya masuk rumah sakit karena penyakit yang cukup parah.
Sementara itu, ia juga harus fokus dengan tugas dan kehidupan barunya di sekolah. Belum lagi tugasnya banyak terlantar karena para fans-nya terus saja mengganggu fokusnya. Bukan hanya di sekolah. Tapi di akademi juga, ia sibuk diganggu para fans-nya yang semakin hari semakin banyak.
Dan Lucy, ia tidak terlalu sibuk. Beberapa tugas sekolahnya sudah ia kerjakan dan ia hanya perlu fokus berlatih.
Sekarang dirinya lebih sering bersama dengan Sheilla dan Adeline.
Terkadang juga hanya berdua dengan Adeline. Karena kalau Sheilla sudah bertemu dengan Grayson, mereka sudah tidak akan bisa dipisahkan dan ditenangkan lagi.
Adeline yang berjalan tepat disampingnya, melirik ke arah Sheilla.
Raut wajah gadis itu tampak sangat kesal, ia berbicara bersungut-sungut ketika membicarakan Grayson.
"Jangan terlalu benci, karena terlalu benci bisa jadi cinta." Adeline berucap membuat Lucy tertawa di sebelah sana.
"Apa kau bilang? Cinta? Tidak mungkin aku cinta pada lelaki seperti dia. Dia itu orang yang super menyebalkan!" tukas Sheilla bersungut-sungut.
"Sekarang kau akan bilang tidak, tapi kita tidak pernah tahu kedepannya seperti apa 'kan? Bisa saja suatu hari nanti kau jatuh cinta padanya atau malah mungkin saja berakhir menikah dengannya?"
"Menikah? Astaga, kau berpikir berlalu jauh. Pacaran saja sudah tidak mungkin, apalagi menikah. Kalau aku menikah dengan pria sepertinya, yang ada hidupku kacau dan rumah tanggaku tidak akan pernah harmonis. Setiap hari, pasti bertengkar!"
"Ya, ya. Tapi sudah kubilang bisa saja, jangan menutup segala kemungkinan yang ada!"
"Arghh! Kau sama menyebalkannya saja dengan dia. Sudahlah, aku tidak ingin berdebat lagi denganmu." Sheilla diam. Ia tak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan Adeline.
"Ya sudah, aku juga tidak ingin berdebat denganmu," sahutnya.
Perjalanan mereka di lanjutkan dengan keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir mereka masing-masing. Hanya suara orang-orang di sekitar, yang berlalu-lalang berpapasan dengan mereka.
Tiba di dorm, mereka bertiga berpisah dan pergi ke kamar masing-masing.
Lucy membuka kamarnya.
"Huft~" Lucy menghela napas.
"Hari ini benar-benar melelahkan," gumamnya.
Ia meregangkan tubuh, benar-benar lelah rasanya karena beberapa latihan hari ini.
...***...