
"Apa-apaan reaksinya itu, berlebihan sekali," gumam Jean. Kedua manik matanya memandang pegawai itu hingga benar-benar hilang di balik lorong yang mereka lewati sebelumnya.
"Aku cukup terkejut dengan reaksinya," lirih Daniel.
"Aku juga." Lucy menimpali. Jean beralih menatap Daniel di sampingnya begitu pegawai itu hilang.
"Tampaknya senyumanmu itu bisa membuat orang lumpuh dalam seketika," komentarnya.
"Tentu saja, senyumanku 'kan sangat mempesona. Makanya membuat orang-orang lumpuh dalam seketika," narsisnya.
"Bukan itu arti yang aku maksud!" Jean geram sendiri jadinya.
"Lalu?" Daniel menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudku senyumanmu bagaikan kutukan yang dapat melumpuhkan setiap orang yang memandangnya."
Daniel melengos, sedangkan Lucy benar-benar tidak ingin berkomentar apapun. Jean tampaknya sejak awal memang hanya ingin membuat keributan di tempat itu.
"Sudahlah lebih baik kita temui Maria saja, Lou! Jangan hiraukan ucapannya." Daniel menarik Lucy pergi dari sana.
"Kalian ini jahat sekali padaku!" teriak Jean ketika Daniel menarik Lucy dan meninggalkannya begitu saja sendirian di sana.
Tok, tok, tok…
Daniel mengetuk pintu itu perlahan, mereka terdiam sesaat menunggu jawaban dari orang di dalam sana.
"Masuk!" Terdengar suara Maria berucap di balik pintu yang mereka datangi.
Daniel mendorong pelan kenop pintu, membuatnya bisa dengan jelas melihat gadis yang kini terduduk di meja kerjanya dengan setumpuk kertas dan beberapa alat jahit seperti benang, jarum, dan meteran. Serta tak lupa secangkir kopi hitam untuk menemani pekerjaannya.
Fokus Maria beralih ke arah datangnya suara dan mendapati Lucy yang baru saja tiba dengan kedua sahabatnya berdiri diambang pintu masuk ruang kerjanya.
Maria merekahkan senyuman begitu melihat siapa yang baru saja datang berkunjung ke ruang kerjanya.
Tapi Jean keliru.
Maria beranjak bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menghampiri mereka bertiga sambil mengembangkan senyum.
"Kami datang atas perinta…"
"Akhirnya kau datang juga! Aku senang akhirnya kau mau menerima tawaranku dan datang kemari!" kata Maria dengan begitu antusias.
Maria melewati Daniel. Tidak menghiraukan lelaki itu sama sekali, bahkan tak peduli dengan apa yang barusan ia ucapkan.
Maria menghampiri Lucy yang berada tepat di tengah-tengah, di antara Daniel dan Jean.
Maria memeluknya erat secara tiba-tiba. Lucy tersentak bukan main ketika Maria tanpa aba-aba memeluknya. Ia kaget karena tiba-tiba saja Maria memeluknya.
Ekspresi Jean dan Daniel sama terkejutnya dengan Lucy yang baru saja dipeluknya. Apalagi Jean saat sadar dengan sosok yang di peluk Maria.
Maria melerai pelukannya lalu menatap Lucy. Kedua tangannya memegang pundak gadis itu, dengan kedua iris mata beradu pandang dengannya.
"Aku sangat senang begitu melihat kau datang, aku kira tadi itu siapa." Maria masih tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.
"A… ah ya hehe…" Lucy hanya terkekeh pelan. Jujur saja dirinya bingung harus merespon bagaimana, karena ia tidak menyangka kalau Maria ternyata masih ingat padanya.
Di sisi itu, otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.
"Bagaimana kalau kita mengobrol di tempat lain?"
"Itu… kami datang untuk…"
"Ayo!" Maria menarik tangan Lucy dan membawanya ke ruangan lain lewat pintu lain di sana.
...***...