A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 102 - Aku takkan berhenti!



Ia berjalan perlahan menghampiri Beatrix yang terjatuh di sana.


"Sekarang kau kalah. Dan itu artinya, kau harus menepati janjimu!" Lucy menunjuk gadis itu dengan tongkatnya.


Beatrix tak dapat berkutik lagi. Tubuhnya benar-benar sakit dan tenaganya habis karena terlalu banyak di pakai untuk menyerang Lucy.


Orang-orang di sana di buat terkejut oleh aksi Lucy barusan. Semua yang ada di sana melongok. Menatap keduanya.



Benar-benar mengejutkan, karena Lucy berhasil mengalahkan Beatrix di saat-saat dia hampir saja kalah.


Lucy berbalik meninggalkan Beatrix. Dilemparkannya tongkat di tangannya ke arah samping, membuat tongkat itu menggelinding menghampiri orang-orang yang sejak tadi menonton. Lucy berjalan meninggalkan ruang latihan.


Di sisi lain, Beatrix mulai berusaha memulihkan tenaganya. Tangannya mulai bergerak, kemudian secara perlahan meraih tongkat yang jaraknya tak jauh dari tempatnya.


Dengan cepat, ia menariknya. Meraih tongkat itu, kemudian bergegas bangkit dan berlari mengikuti arah Lucy dengan tongkat terangkat di atas kepalanya.


"Kau pikir ini akan berakhir begitu saja? Aku belum kalah darimu!" Beatrix memekik ia mengayunkan tongkatnya ke arah Lucy.


Namun beruntung insting Lucy yang tajam, berhasil membuatnya selamat. Lucy berhasil menangkap tongkat itu dengan sebelah tangan.


Beatrix tercekat saat lagi-lagi Lucy berhasil menangkis serangannya.


Ia berusaha untuk menarik kembali tongkatnya dan melepas cengkeraman tangan Lucy. Tapi usahanya gagal. Lucy terlalu erat memegang tongkatnya.


Lucy berbalik dengan tangan yang masih memegang tongkat. Menatap Beatrix yang tampak tak tenaga, tapi terus memaksakan diri untuk melawan dan tidak mau menerima akan kekalahannya dengan Lucy.


Lucy menarik tongkat itu ke arahnya, Beatrix yang masih lemas spontan tertarik ke arah Lucy dan tongkat dalam genggamannya lepas.


Tongkat itu terdorong ke arah belakang Lucy hingga akhirnya jatuh menghantam dinding.


Lucy dan Beatrix beradu tatap.


Lucy menangkisnya dengan tangan. Secepatnya, ia menyerang balik gadis itu dengan tendangan yang mengarah ke kepalanya.


Bugh!


Tendangan itu mengenai Beatrix. Gadis itu terhempas keras hingga jatuh ke lantai dalam keadaan tengkurap.


Beatrix terdiam. Energinya benar-benar habis terpakai dan sekarang ia tidak bisa bangkit untuk menyerang Lucy lagi.


"Cukup sampai di sini! Sekarang tepati janjimu, kau tidak akan melakukan penindasan lagi, dan berjanjilah kau tidak akan melakukan banyak masalah yang membuat orang lain susah!" tukas Lucy.


Beatrix menoleh ke arahnya pelan, darah segar mengalir di sudut bibirnya.


Sejurus kemudian, Beatrix terkekeh mendengar ucapan Lucy barusan.


"Hahahaha k… kau pikir, aku akan menuruti ucapanmu? Tidak akan pernah!" tutur Beatrix.


Luxy menatapnya tajam. Sejak awal, dia kira gadis itu bukanlah seorang pengecut dan sebisa mungkin sejak awal Lucy menepis jauh pikirannya tentang akhir yang seperti ini.


Tapi ternyata dugaannya salah, dan ternyata apa yang semua dicemaskannya, benar-benar terjadi.


Lucy melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap Beatrix tanpa ekspresi.


"Jika kau tidak ingin berhenti, maka aku juga tidak akan berhenti dan tidak akan pernah lelah untuk menggagalkan setiap aksimu!"


Lucy berbalik, kemudian melangkah dengan penuh kemenangan, meninggalkan ruang latihan.


Teman-teman sekelasnya kembali bersorak menyerukan namanya. Untuk pertama kalinya, mereka melihat seorang Beatrix terkapar seperti ini.


...***...