A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 73 - Pergi begitu saja



Sheilla dan Grayson itu bagaikan kucing dan anjing yang terus bertengkar ketika mereka bertemu, tanpa peduli dimana mereka berada dan tak peduli mereka tengah dalam keadaan apa. Selalu ada saja yang membuat mereka bertengkar.


Lucy dan kedua sahabatnya itu sempat terkejut karena Sheilla bisa kenal dengan anak baru ketika mereka pertama kali bertemu.


Tapi ternyata papanya Grayson adalah rekan dari mamanya Sheilla, dan beberapa kali Sheilla serta Grayson pernah dipertemukan beberapa kali, dan sejak awal ternyata mereka memang sudah saling bermusuhan seperti saat ini.


Lucy meraih gelas berisi minumannya lalu menegak hingga habis.


Daniel yang duduk tepat berhadapan dengannya juga baru saja selesai makan.


"Kau sudah selesai?" tanya Daniel pada Lucy membuatnya refleks menoleh ke arah Daniel.


"Iya aku sudah selesai."


"Kalau begitu ayo kita pergi. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Daniel beranjak bangkit dari tempat duduknya.


"Tapi, Jean bagaimana?"


"Iya. Jangan tinggalkan aku. Aku 'kan baru saja tiba, aku juga baru makan," kata Jean cepat.


Kalau Lucy mulai dekat-dekat dengan Daniel, maka akan sulit bagi Jean untuk bersama dengan Lucy. Pasalnya, lelaki itu selalu memonopoli Lucy dan tidak akan membiarkan dirinya untuk dekat dengan Lucy.


"Sudah tinggalkan saja dia. Makanannya saja masih banyak. Ayo!" Daniel menarik tangan Lucy membuat ia beranjak dari tempat duduknya.


"Hey! Jangan tinggalkan aku!" Jean berteriak.


"Kau habiskan dulu makananmu, setelah itu baru susul kami di tempat biasa!" sahutnya tak acuh.


Ia berjalan meninggalkan Jean, merangkul Lucy agar tak terus menoleh ke arah Jean yang sidik seorang diri di sana.


"Dasar kau menyebalkan!" Jean kesal.


Dengan air muka masamnya, ia melahap semua makanannya dengan kasar.



...*...


Sepanjang jalan tadi ia terus uring-uringan.


Sesekali ia menendang-nendang udara dihadapannya hingga membuat orang-orang di sekitar, menoleh ke arahnya dan menatapnya seakan-akan dirinya gila.


"Awas saja. Saat aku tiba di sana, aku akan pisahkan Lucy bagaimanapun caranya!"


Ia terus berjalan. Hanya tinggal berbelok lalu berjalan lurus, maka ia akan sampai dimana Lucy dan Daniel menunggunya.


Namun saat ia berbelok, secara tidak sengaja ia di tabrak oleh seorang anak perempuan yang berbelok dari arah yang berlawanan dengannya.


Jean terjerembab jatuh di lantai dengan suara yang sangat keras. Semua orang di sana melirik ke arahnya lalu menertawakannya keras.


Jean tak kuasa menahan malu. Wajahnya dalam seketika berubah merah merona.


Ia mengusap pantatnya yang terasa sakit. Ditatapnya gadis yang baru menabraknya itu.


Pandangan mata mereka beradu. Namun Jean tidak melihat sedikitpun rasa bersalah dari gadis dihadapannya.


Beatrix bahkan menatap Jean dengan tatapan datar, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tapi tatapan matanya, tajam memandangnya.


Jean bangkit dari tempatnya, ia menatap Beatrix dengan wajah sebal.


Amarahnya memuncak dan sebentar lagi akan meledak.


"Apa kau tidak punya mata huh? Apa kau tidak dapat melihat aku berjalan dari arah sana?!" Jean memekik padanya.


Alih-alih menjawab, Beatrix malah menatapnya sekilas, kemudian berlalu begitu saja melewatinya.


Jean melongok di buatnya. Gadis itu benar-benar tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun padanya.


"Sudah berbuat salah, kau pergi?"


...***...