A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 31 - Diganggu?



Noël adalah sebutan natal untuk orang-orang Prancis, sedangkan La Saint-Sylvestre adalah acara setelah Noël, yaitu tahun baru.


"Aku memang rindu dengan London, tapi aku juga senang di sini. Karena di sini, aku bisa bersama dengan Leon," gumam Liana. Caroline mengangguk-angguk pelan, menanggapi kalimat yang baru saja terlontar dari mulut putri kecilnya.


"Tapi kenapa mama bertanya?" Liana menatap Caroline dengan wajah bingung. Tidak biasanya wanita yang menjadi ibunya itu bertanya mengenai hal ini.


"Mama hanya ingin tahu. Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Sekarang tidur, ya?" Caroline mencium kening Liana.


"Good night sweetie, have a nice dream," gumamnya pelan. Liana hanya mengangguk sebagai jawaban.


Caroline beranjak turun dari ranjang tidur Liana, menarik selimutnya hingga mencapai dada setelah itu melangkah menuju pintu keluar. Ia mematikan lampu setelah yakin Liana sudah terlelap dalam tidurnya.



...*...


Ceklek!


Pintu kamar itu terbuka, membuat Theodore yang tengah mengancingkan baju tidurnya itu menoleh ke arah datangnya suara.


Caroline menutup pintu kamarnya lalu duduk di tepi ranjang. Wanita itu memakai gaun tidur yang kemudian dilapisi dengan jaket panjang hangat ditubuhnya.


"Liana has sleeping, baby?" tanya Theodore padanya sambil kembali fokus pada pantulan dirinya di cermin.


(Liana sudah tidur, sayang?)


"Hm…" Caroline menjawab dengan bergumam.


Theodore beralih mengambil cermin dan menyisir rambutnya.


Atensinya tertuju pada Caroline begitu sadar wanita yang jadi istrinya itu memasang wajah kurang baik.


"Ada apa sayang? Kenapa kau tampak bingung? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Theodore yang langsung membuyarkan seluruh isi lamunannya.


Caroline beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Theodore lalu memeluk pinggangnya dari belakang. Membuatnya terdiam untuk sesaat.


Caroline menenggerkan kepalanya di bahu Theodore. Kini dirinya nampak di depan cermin yang ada dihadapan mereka.


"Apakah tidak lebih baik kalau kita kembali ke London secepatnya?" Caroline bergumam tepat di telinganya. Theodore menatap Caroline lewat pantulan cermin, raut wajahnya kebingungan.


(Kenapa? Apa kau tidak suka tinggal di sini?)


"Not. It's not like that, honey," katanya. Theodore melepaskan tangan Caroline yang melingkar dipinggangnya. Menaruh sisirnya, kemudian berbalik dan memandang Caroline secara langsung. Kedua tangannya menggenggam tangan Caroline.


(Tidak. tidak seperti itu, sayang)


"So? What happen?" Theodore kembali bertanya. Kedua manik matanya memandang Caroline lekat.


"Ini tentang Liana," ujarnya. Theodore semakin bingung dibuatnya.


"Ada apa dengan Liana? Apakah dia tidak senang tinggal disini?"


"Bukan."


Theodore menarik Caroline dan memintanya untuk duduk di tepi ranjang bersamanya.


"Lalu kenapa?"


"Aku hanya merasa kasihan padanya. Sejak kedatangan kita ke Paris, dia selalu diganggu oleh anak-anak tetangga nakal yang tinggal di sekitar taman tempatnya bermain."


"Diganggu?"


"Bahkan seringkali Liana dan Leon pulang dalam keadaan luka-luka seperti tadi."


"Jadi, luka di wajah Leon itu karena dia diganggu?"


Caroline menjawab dengan anggukan kepala.


"Apa Liana juga terluka?" Theodore berubah cemas.


"Dia terluka. Tapi lukanya tidak separah Leon. Liana hanya terluka sedikit, itu juga hanya karena dia berusaha melindungi Leon agar tidak terus menerus diganggu anak-anak nakal itu."


"Tapi, aku tidak menemukan sedikit pun luka ditubuhnya. Dia bahkan tidak lecet sedikitpun."


"Liana terluka dilututnya."


...***...