A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 57 - Identitas baru



Bean keluar dari dalam ruangan Nico membuat fokus anak-anak di sana tertuju ke arahnya.


"Kau di minta untuk masuk oleh sir. Nic," kata Bean seraya menatap Lucy.


Lucy lalu berjalan masuk meninggalkan teman-teman barunya di sana.


Tiba di dalam, Bean menutup pintu ruangan itu rapat agar tak ada seorangpun dari anak-anak didiknya itu, yang berusaha untuk menguping pembicaraan mereka.


Lucy masih menampakkan raut wajah bingung, tidak mengerti akan apa yang selanjutnya akan terjadi.


Nico menatap Lucy lekat, ia memandangnya dari atas sampai bawah, seperti sebelumnya.


Lelaki itu sekarang berdiri di depan meja kerjanya, bersandar pada meja dengan masih menatap Lucy.


"Ini... ada apa lagi ya?" tanya Lucy bingung.


"Aku ingin bertanya sesuatu. Tetapi sebelum itu, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." Nico berjalan menghampiri meja kerjanya, memutar laptop di sana ke Lucy, lalu memencet sebuah tombol kecil yang ada.


Lucy mengerutkan kening. Penasaran dengan apa yang akan ditunjukkan oleh Nico padanya.


Ia lalu dikejutkan dengan jendela-jendela di sana yang tiba-tiba tertutup dengan tirai, lalu menampakkan layar putih dibelakangnya.


Lucy berbalik menatap layar putih itu.


Layar itu menapakkan rekaman CCTV dirinya yang sedang bertarung dengan Sheilla di ruang latihan.


"Itu kau 'kan?"



Lucy menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Nico.


Nico memencet tombol yang sama, membuat tirai kembali terbuka dan semua kembali terang seperti sebelumnya.


Nico beranjak bangkit, kembali menghampiri Lucy. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Siapa namamu?" tanyanya seraya menatap kedua manik matanya lekat.


"Namaku Liana," jawab Lucy.


"Nama lengkapmu?"


"Liana Lacina La Vergne."


"Liana," gumam Nico mengulang namanya. Pria itu tampak tengah memikirkan sesuatu.


"Apa nama samaran yang cocok untukmu, ya?" Sekali lagi, ia bicara dengan suara pelan.


Pria itu masih tampak berpikir keras. Liana masih menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Aku punya satu pertanyaan lagi. Apa cita-citamu?"


"Sejak kecil aku suka sekali menonton film kartun yang bercerita tentang mata-mata, dan semenjak saat itu aku bercita-cita ingin menjadi seorang mata-mata suatu saat nanti," ungkapnya terus terang.


Nico sempat terkejut dengan jawabannya. Ia merekahkan senyum, lalu menatap Lucy dengan mata berbinar.


"Apa kau berlatih beladiri? Gerakanmu di rekaman CCTV tadi terlihat sangat andal."


"Tidak. Aku tidak berlatih beladiri apapun."


"Lalu, bagaimana kau bisa menangkis setiap serangan Sheilla?"


"Mungkin, hanya gerakan… refleks?" Lucy mencari kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang dilakukannya.


"Hm… begitu, ya." Nico mengangguk-anggukkan kepala, menyimak penjelasan Lucy.


Ia kembali terdiam.


Liana menatap Nico bingung. Entah apa yang sedang dipikirkan Nico, ia tidak tahu.


Yang pasti Nico tampaknya sedang berpikir keras untuk sesuatu. Terlihat jelas dari raut wajahnya.


Nico lalu berjalan mondar-mandir di hadapan Lucy. Sesekali pandangannya beralih kesana kemari sampai akhirnya, kedua manik matanya memandang laptop yang berada di atas meja kerjanya.


Begitu menatap laptopnya, sebuah ide langsung terlintas dibenaknya. Membuat Nico langsung kembali tersenyum.


"Aha!" Ia menjentikkan jarinya ketika ide itu muncul di otaknya.


Lucy masih menunggu kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan Nico padanya.


"Lucy!" ucap Nico dengan bersemangat.


Lucy mengerutkan keningnya.


...***...