
"Apakah kau yakin ingin turun di sini?" tanya Aland pada Lucy begitu wanita berambut pirang itu, memintanya untuk berhenti di depan sebuah gedung yang tepat berada di tepi jalan.
"Jangan cemaskan aku, pergilah bersama Am, dan pastikan benda itu aman. Kalau sampai benda itu hilang, maka kita tidak akan bisa kembali ke London."
"Senior Lou tenang saja. Aku dan senior Al akan menjaganya," sahut Amanda.
"Terima kasih. Kalau begitu sampai jumpa di penginapan." Lucy mengikat tali pada mantel berwarna merah yang dikenakannya.
Lucy belum mengganti bajunya, ia hanya mengenakan mantel guna menutupi kostumnya, dan melepas thorny bites nya.
"Ya, baiklah kalau begitu." Aland menyalakan mobilnya. "Kau bisa pulang sendiri 'kan? Kalau butuh apa-apa, telpon aku."
"Kau tenang saja, aku bisa pulang sendiri." Lucy meyakinkan kedua rekannya.
"Kalau begitu sampai jumpa di penginapan senior Lou." Amanda melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa." Lucy tersenyum.
Amanda mengenakan helmnya lalu menyalakan motornya.
Lucy beranjak, bersamaan dengan itu kedua rekannya juga ikut pergi. Pulang menuju penginapan untuk beristirahat, karena misi mereka mengejar sindikat transaksi narkoba ilegal jaringan internasional telah selesai.
Selanjutnya yang harus mereka lakukan adalah kembali ke London dan menyerahkan barang bukti tersebut pada Nico guna mendapatkan tindakan lebih lanjut agar misi mereka selesai.
Sepanjang perjalanan, Aland terus di buat penasaran akan rencana Lucy besok. Wanita itu sama sekali tak menjelaskan apa yang hendak ia lakukan besok sampai-sampai membuatnya berubah pikiran tentang keputusannya memberikan sedikit waktu senggang guna menikmati indahnya Paris.
Apakah ucapan Amanda benar, kalau Lucy ingin menghabiskan waktu dengan Felix? pikirnya.
...*...
Felix melangkah keluar dari hotel tempatnya menginap. Ia menghampiri halaman hotel dan menjumpai wanita berbalutkan mantel merah yang telah menunggu kedatangannya sejak tadi.
Ia menghampiri Lucy, dan berdiri tepat dihadapannya.
"Kau menunggu lama?" tanya Felix begitu tiba.
"Aku baru saja tiba." Lucy tersenyum ke arahnya.
Felix mendekat. Mengikis jarak di antara mereka, ia lalu memeluk tubuh wanita yang menjadi kekasihnya itu.
"Aku benar-benar merindukanmu. Aku rindu melihat senyumanmu secara langsung, dan aku juga rindu melihat wajah cantikmu secara langsung. Banyaknya pekerjaan yang harus aku tangani, membuatku tidak bisa menemuimu sama sekali," bisik Felix tepat di telinga Lucy.
Lucy balas memeluk lelaki yang menjadi kekasihnya itu.
"Aku juga merindukanmu, sudah sangat lama kita tidak bertemu," balas Lucy.
Felix mendadak diam. Ia melerai pelukannya dengan Lucy ketika bau tak sedap menusuk hidung bangirnya.
"Apa hanya perasaanku saja, atau kau benar-benar bau?" Felix mengerutkan kening.
Lucy terkekeh menanggapi ucapan Felix. Terkadang pria itu terlalu jujur.
"Tubuhku memang bau. Apakah masih tercium? Aku belum sempat mandi karena buru-buru kemari untuk menemuimu."
"Kau buru-buru kemari? Kalau begitu ayo masuk, biar aku siapkan air hangat di bathtub agar kau bisa berendam dan merilekskan diri." Felix meraih tangan Lucy dan menariknya menuju pintu masuk hotel.
Tiba di lantai dimana ia menginap, Felix segera mempersiapkan bathtub agar Lucy bisa berendam dan membersihkan tubuhnya yang masih dipenuhi keringat serta bau yang terkontaminasi oleh saluran pembuangan air.
"Airnya siap," ujar Felix begitu ia selesai menyiapkannya.
...***...