
"Aku kira dia akan memelukmu, tapi ternyata tidak," bisik Jean pelan di samping Daniel.
Daniel meliriknya sekilas tanpa ingin berkomentar apapun.
"Tampaknya di mata Maria, kau tidak ada apa-apanya. Lucy lebih bersinar dibandingkan pesonamu tadi."
"Bisakah kau diam? Sejak awal kau terus saja berusaha membuat keributan," tukas Daniel yang mulai merasa terganggu dengan gadis disampingnya yang terus saja mencari ribut.
"Oww, lihat. Tampaknya kau cemburu."
"Heh? Cemburu?" Daniel menyeringai mendengar ucapan Jean. Ia jadi memiliki ide guna membuat gadis itu diam tak berkata-kata. Kedua tangannya terlipat di depan dada. "Apakah tidak terbalik? Bukankah sejak awal kau yang cemburu denganku karena aku memiliki banyak penggemar dimana-mana?"
Air muka Jean berubah. Wajahnya memanas dalam seketika. Ia menatap Daniel dengan tatapan tak bersahabat.
"Dasar kau ini memang menyebalkan, ya!" Jean sebal.
"Sudahlah akui saja jika kau memang cemburu!"
"Arghh sudahlah, kau ini memang menyebalkan!" tukas Jean yang tak lama kemudian diam dengan raut wajah cemberut.
Daniel terkekeh puas. Ia berhasil membuat mulut nyinyir Jean itu berhenti berkomentar tentang dirinya.
Setelah berjalan tidak terlalu lama, mereka kemudian tiba di sebuah pintu lain yang terletak di ujung lorong yang mereka lewati.
Di ujung lorong itu mereka berhenti. Maria membuka pintu di hadapannya dan mengajak Lucy serta kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam sana.
Mereka bertiga di buat lebih takjub saat mereka tiba di dalam sana.
Di balik pintu dalam lorong gelap itu, mereka seakan menemukan dunia lain.
Gaya bangunan di lorong itu tampak indah, lebih indah jika di bandingkan dengan ruang kerja Maria.
Maria lalu membawa mereka mengambil jalan lain, berbelok di lorong kanan kemudian di sana mereka tiba di tangga yang mengarah ke ruangan di bawahnya.
Sesekali mereka berpapasan dengan orang-orang yang naik, dan tak jarang juga Daniel bertemu dengan gadis-gadis genit yang dengan sengaja menabraknya.
Setelah berjalan hingga bagian bawah ruangan tersebut, akhirnya mereka tiba di ruangan yang luas.
Dalam ruangan itu tampak seperti sebuah club' malam.
Banyak sekali orang-orang di sana yang mengenakan pakaian serba hitam, beberapa di antara mereka menari di dance floor dengan alunan musik yang menemani mereka.
Lucy terkejut. Tidak menyangka kalau di balik pintu dalam lorong gelap itu akan ada tempat seindah ini.
Begitu juga dengan Daniel dan Jean, yang tak dapat berkata-kata saat tiba di sana dan melihat tempat itu.
Di dalam sana sangat ramai, dan mereka tak menyangka bahwa di balik toko pakaian yang mewah ada tempat yang seramai ini melebihi toko pakaiannya.
Maria menghampiri meja bar yang ada.
Mereka duduk di kursi kosong yang sudah tersedia. Di belakang meja bar itu, berdiri seorang barista muda yang tengah melakukan atraksi di hadapan para pengunjung yang datang ke bar nya.
Barista itu seorang pria dengan penampilan rapi, memakai kemeja hitam panjang yang dilipatnya hingga siku, kemudian dipadukan dengan rompi yang memiliki warna serupa dengan kemejanya.
Fokus barista itu lantas beralih pada Maria yang baru saja tiba dengan ketiga orang yang tampak asing.
"Hai!"
...***...