
Hari berganti hari, jam berganti jam, dan menit berganti menit. Sudah tiga Minggu berlalu semenjak Daniel mengutarakan perasaannya pada Lucy.
Tak ada yang berubah di antara mereka. Setelah kejadian itu, mereka tetap akrab satu sama lain dan tetap menjadi sahabat.
Tak ada yang tahu pula tentang kejadian itu, yang tahu hanya tuhan, mereka berdua, dan Ethan. Yang tentunya selalu bersikap biasa seakan dia tak tahu apa-apa.
Jean tidak mengetahui hal itu, karena Lucy tak ingin membuat Daniel merasa kurang nyaman dengan dia menceritakan kejadian itu pada Jean.
Setelah berpisah selama hampir kurang lebih tujuh Minggu, akhirnya Lucy dan Daniel dapat kembali bersama dengan Jean.
Gadis itu baru berhasil menyelesaikan semua tugas sekolahnya. Kini mereka lengkap kembali bertiga, selalu bersama dan tidak terpisahkan.
Saat ini adalah hari yang baru. Tepat ketika Lucy baru saja tiba dan selesai berganti pakaian, ia bertemu dengan Jean di persimpangan dorm nya.
Mereka lantas melangkah bersama keluar dari dorm dan bertemu dengan Daniel yang sejak awal menunggu mereka berdua di batas penghubung antara dorm perempuan dan laki-laki.
Ketiganya melangkah bersama menuju arah ruang latihan untuk berlatih seperti hari-hari biasanya.
Entah mengapa ketiganya merasa kalau Beatrix yang sejak awal sering membuat masalah, sekarang agak baik, karena tidak terlalu melakukan banyak masalah dan membuat akademi lebih tenang di banding sebelumnya.
"Aku sudah tidak sabar untuk berlatih." Jean berucap memecah keheningan di antara mereka bertiga.
"Aku juga," sahut Lucy.
"Omong-omong berapa lama kita tidak seperti ini? Aku benar-benar merasa rindu, karena kita jarang bersama seperti ini."
"Ya, kurang lebih sebulan. Kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri!" Daniel menyahuti.
"Satu bulan? Ternyata cukup lama, ya."
"Sangat-sangat lama," kata Lucy.
"Ah ya, kau benar hehe…" Jean tercengir.
"Karena kau sudah lama tidak bersama dengan kita, sebagai gantinya kau harus mentraktir kita makan untuk menebus kesalahanmu!" ucap Daniel.
"Kalian ini menyebalkan!" tuturnya.
"Anggap saja sebagai hukuman." Daniel merangkul pundak Jean, lalu menyeretnya diikuti Lucy disampingnya.
"Baiklah-baiklah, aku akan mentraktir kalian makan di kantin saat jam istirahat nanti.l," final-nya pasrah.
"Bagus." Daniel dan Lucy tersenyum puas.
"Menyebalkan!" Jean mencubit perut pria itu. Tapi tak membuatnya kesakitan.
...*...
"Tangkap!" teriaknya yang tanpa aba-aba langsung melemparkan sebuah tongkat ke arah Elena yang sedang melamun.
Beruntung Elena refleks menangkapnya.
"Tahan!" pekiknya sekali lagi. Namun belum sempat Elena menahan, sebuah pukulan keras sudah mendarat tepat ke arah kepalanya.
Hal itu membuatnya spontan terhuyung jatuh ke lantai.
Brukk!
Ia meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang dipukul keras oleh Beatrix hingga berdarah.
"Shh…" Elena kesakitan.
Orang-orang di sana terdiam, semuanya terkejut bukan main dengan apa yang baru saja mereka lihat dihadapannya.
Yang lebih parahnya lagi, tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu Elena yang di anggap mereka sombong itu.
"Huh, lihat! Kau saja bahkan sangat lemah, dan refleksmu saja kurang. Tapi, kenapa sir. Nic dan coach Bean begitu menyayangimu?" Beatrix menyeringai. Memandang Elena dengan tatapan meremehkan.
Elena diam sambil memegangi kepalanya yang benar-benar terasa sakit akibat pukulan keras.
...***...