A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 116 - Kostum



"Omong-omong maaf aku dan ibuku tidak dapat mengantarkan pesanan kostum kalian dengan layanan kami, karena saat ini supir pengantarnya sedang sibuk dengan beberapa pesan lain…"


"…Semuanya sibuk, di tambah lagi aku juga tidak bisa pergi karena banyak sekali pekerjaan yang aku kerjakan. Banyak sekali projects yang aku pegang, bahkan tiga hari ini saja aku kurang tidur," jelas Maria.


Lucy, Jean dan Daniel dapat melihat jelas jika gadis itu tengah sangat kelelahan.


Bagian sekitar matanya menghitam, membuatnya terlihat hampir mirip seperti panda.


"Kami dapat melihat jika kau sangat kelelahan," tutur Lucy.


"Banyak sekali kostum yang harus aku rancang untuk beberapa sindikat berbeda. Maka dari itu, aku harus fokus pada semua itu. Mana deadline-nya sudah dekat pula. Aduh…" keluh Maria sembari memijat keningnya yang terasa pusing.


Saat ini mereka tengah berada di ruang VIP, di lantai dua bar yang sama.


Di ruangan ini lebih tenang dibandingkan ruangan sebelumnya, dan dengan leluasa mereka dapat berbicara. Di tambah lagi ruangan yang tampak seperti kafe ini lebih membuat Maria nyaman.


"Aku dapat melihatnya," gumam Jean seraya memandang ke arahnya.


Daniel hanya diam tak berkomentar. Ia meraih gelas lalu meminum isinya sampai habis setengah.


Ia masih merasa jengkel dengan Jean yang main asal potong kalimatnya saja padahal ucapannya belum selesai sama sekali.


"Oh ya, apa kalian masih ada waktu? Kalau kalian masih ada waktu tinggallah lebih lama di sini."


"Kami harus buru-buru karena kami takut coach Bean membutuhkan bantuan kami. Saat ini, dia juga sedang memiliki banyak pekerjaan," balas Daniel.


"Sayang sekali, tampaknya semua orang tengah sibuk saat ini dan mungkin waktunya kurang tepat," gumam Maria pelan.


"Baiklah lain kali saja, aku mengajak kalian menongkrong bersamaku," sambungnya.


"Maaf, ya…" ujar Lucy.


"Ide yang bagus, aku sudah tidak sabar ingin mencobanya!" Jean tampak antusias.


"Baiklah, ikut aku!" Maria beranjak bangun dari tempat duduknya.



Ia lantas melangkah pergi dari sana di ikuti oleh Lucy, Jean dan Daniel di belakangnya.


Mereka kembali turun ke lantai satu, dimana tempat pertama kali mereka bertemu dengan Thomas si barista yang ramah.


Di sana, di dekat meja barista itu, Maria melangkah melewatinya kemudian berhenti di sebuah pintu yang tertutup di ujung jalan.


Maria membuka ruangan itu, kemudian masuk bersama dengan Lucy, Jean dan Daniel.


Di dalam sana, Lucy, Jean, dan Daniel di buat takjub dengan gaya arsitektur yang indah.


Maria meminta mereka untuk duduk di sofa empuk yang tersedia di sana.


"Kalian tunggu di sini, aku akan bawa dulu baju milik kalian," tuturnya. Maria menghampiri salah satu pintu di sana.


Cukup lama gadis itu pergi untuk mencari kotak yang tepat dengan label nama mereka masing-masing.


Setelah hampir sepuluh menit mereka menunggu, akhirnya Maria kembali dengan tiga kotak berisi kostum ditangannya.


Ia memberikan kotak itu ke orang yang tepat sesuai dengan label yang di menempel di sana.


"Kalian bisa coba ini di ruang ganti. Ruang gantinya ada di sana." Maria menunjuk sudut ruangan dengan beberapa pintu berjejer rapi.


...***...